Presiden RI Joko Widodo mengingatkan bahwa pemimpin Indonesia ke depan harus menyadari keberagaman yang menjadi kekayaan dan kekuatan bangsa.

Hal itu disampaikan Presiden dalam sambutannya saat membuka perhelatan Bahaupm Bide Bahana Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa, sebagaimana disaksikan secara daring dari Jakarta.

"Yang paling penting pemimpin Indonesia sekarang, ke depan, dan ke depannya lagi, siapa pun harus menyadari bahwa Indonesia ini beragam. Harus sadar mengenai keberagaman Indonesia yang berbeda-beda, yang beragam. Karena keberagaman itu adalah kekayaan besar bangsa," kata Jokowi.

Presiden mengingatkan bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki ratusan suku dan subsuku. Total suku di Indonesia, kata Jokowi, mencapai 714 suku.

Ia menyebutkan ada Suku Dayak, Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Sasak, Suku Batak, dan selanjutnya sampai 714 suku.

"Suku Dayak sendiri, subsukunya juga banyak sekali, saya enggak hafal semuanya karena ada 406 sub-Suku Dayak. Ada Dayak Iban, benar? Kalau keliru tolong dibenarkan. Ada Dayak Kanayan, ada Dayak Kayan, ada Dayak Lawangan, ada Dayak Kendayan, dan lain lainnya," ucap Presiden.

Jokowi melanjutkan, "Saya enggak hafal semuanya karena ada 406 sub-Suku Dayak. Artinya apa? Betapa negara kita ini negara yang sangat besar sekali. Itu yang sering kita tidak sadar."

Presiden menekankan lagi bahwa pemimpin Indonesia harus menyadari keberagaman tersebut, serta memahami bahwa keberagaman itu adalah kekuatan, bukan kelemahan.

"Keberagaman, perbedaan itu adalah sebuah kekuatan, bukan kelemahan. Hati-hati. Keberagaman itu adalah kekuatan kita, bukan kelemahan kita. Oleh sebab itu, perbedaan itu bukan memecah belah, perbedaan itu adalah kekuatan, perbedaan itu bukan melemahkan, melainkan menguatkan," jelasnya.

Ia mengingatkan agar perbedaan suku atau subsuku dijadikan sebuah kekuatan bangsa. Jokowi mengaku senang melihat peserta TBBR mau merawat budaya Dayak yang merupakan budaya bangsa.

Jokowi menyampaikan budaya bangsa tidak boleh dilupakan dan harus dirawat bersama dengan baik.

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga

Editor : Abdullah Rifai


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2022