Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menggambarkan perjalanan hidup sang ayah Ahcmad Hermanto Dardak seperti dalam lagu klasik "My Way". 

"The record shows
I took the blows
I did it my way"


Begitu Emil mengutip bagian akhir dari lagu yang dipopulerkan di tahun 1969 oleh penyanyi asal Amerika Serikat Frank Sinatra itu, sebagaimana diunggal dalam akun media sosial "Instagram Story" pribadinya untuk melepas kepergian sang ayah, Sabtu.

"Itu adalah lagu favorit ayah," katanya, melalui keterangan tertulis di Surabaya, Sabtu. 

Achmad Hermanto Dardak meninggal dunia dalam kecelakaan di Pekalongan saat perjalanan pulang menuju Jakarta, Sabtu dini hari, sekitar pukul 03.25 WIB, usai menghadiri seminar nasional mengenai pemindahan Ibu Kota Negara di Semarang, Jawa Timur.

Baca juga: Ayah Wagub Jatim meninggal akibat Kecelakaan di Tol
 
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia periode 2010 - 2014 itu meninggalkan seorang istri, Sri Widayatie, dan tiga orang anak, Emil Elestianto Dardak, Amila Alistiawati dan Eron Ariodito. Putra ketiganya, Eril Arioristanto Dardak  meninggal dunia terlebih dahulu pada tahun 2018.

Semasa hidupnya, Hermanto Dardak berdedikasi dalam dunia pembangunan infrastruktur dengan terlibat sebagai insinyur sipil di Indonesia.

Lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 9 Januari 1957, dari pasangan KH Mochamad Dardak dan Siti Mardiyah. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Trenggalek, melanjutkan pendidikan di Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1975. Lulus tahun 1980, dia meneruskan studi S2 di Teknik Sipil Universitas New South Wales, Australia, hingga lulus tahun 1985 dan mendapat gelar doktor dari Universitas yang sama pada tahun 1990.

Baca juga: AHY: Hermanto Dardak sumbangkan pemikiran terbaik untuk negeri

Hermanto menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan bergengsi "Professional of the Year" dari "International Road Federation". Dia pernah menjadi ketua organisasi permukiman internasional EAROPH dan memimpin "Road Engineering Association for Asia and Australiasia" (REAAA).

Lulus kuliah, Hermanto meniti karir sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Pekerjaan Umum. Karirnya melesat hingga menjadi Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri (KLN) di usia 38 tahun dan selanjutnya menjadi Dirjen Penataan Ruang dan berperan melahirkan UU Penataan Ruang di tahun 2007.
 
Hermanto kemudian diamanahi sebagai Dirjen Bina Marga. Di antaranya berperan menuntaskan pembangunan Jembatan Suramadu, serta mengatasi banjir di tol Bandara Soekarno Hatta dengan pembangunan jalur tol "elevated".

Baca juga: Khofifah sampaikan duka cita meninggalnya ayahanda Wagub Emil Dardak

Puncak karirnya menjadi Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode 2009-2014, di antaranya berperan menginisiasi berbagai rintisan infrastruktur strategis seperti bendungan dan jalan tol trans Sumatra melalui konsep penugasan. Selain itu pernah menjabat Komisaris Utama PT Hutama Karya periode 2007-2014.

Pasca menjabat Wakil Menteri, Hermanto mendapat tugas khusus untuk merintis pendirian Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) di bawah Kementerian PUPR. 

Hermanto mendapat amanah menjadi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia periode 2015-2018 dan turut membidani lahirnya UU Keinsinyuran.  

Atas segala pengabdiannya untuk profesi dan pemerintahan, Hermanto memperoleh penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

Selain itu, beberapa penghargaan lain didapatnya seperti "Honorary Fellow" dari "Institution of Engineer Asia", "Distinguish Alumni Award Australia", Insinyur Profesional Utama dari Persatuan Insinyur Indonesia dan "Legacy Award" dari Ikatan Ahli Perencana (IAP).

Di akhir hayatnya, Hermanto Dardak dipercaya sebagai ketua tim pengarah pembangunan infrastruktur Ibu Kota Negara (IKN) Kementerian PUPR. Dia turut berperan menentukan titik nol IKN.

"Saya bangga memiliki memiliki sosok ayah seperti beliau," ucap Emil Elestianto Dardak. (*)
 

Pewarta: Hanif Nashrullah

Editor : A Malik Ibrahim


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2022