Kepala Humas Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Angie Mizeur, mengajak LKBN ANTARA Biro Bali untuk bersinergi dalam mengatasi hoaks, terutama hoaks yang merugikan hubungan Indonesia-Amerika.

"Ke depan kita bisa bekerja sama untuk mengatasi informasi hoaks yang tersebar dan merugikan masyarakat dari kedua negara, seperti pelatihan jurnalis melawan hoaks yang sudah pernah kami adakan bersama AJI," katanya saat mengunjungi Kantor Biro LKBN ANTARA Bali di Jalan Mataram 1, Lapangan Lumintang, Denpasar, Jumat.

Didampingi Asisten Bagian Media Humas Konjen AS di Surabaya, Yehezkiel Tumewu, ia mengucapkan selamat HUT ke-84 Kantor Berita ANTARA, khususnya teman-teman LKBN ANTARA di Bali. "Semoga, ANTARA terus menjadi kantor berita yang terpercaya," katanya.

Dalam perbincangan dengan Kepala Biro LKBN ANTARA Bali Edy M Ya'kub dan staf, Angie juga menanyakan perkembangan COVID-19 di Pulau Dewata dan dampaknya pada masyarakat Bali, termasuk dampak pada kalangan wartawan di kawasan pariwisata yang mendunia itu.

"Bagaimana dampak COVID-19 pada masyarakat Bali, apakah masyarakat masih bisa bertahan tanpa pariwisata yang menurun akibat Pandemi COVID-19? Bagaimana juga teman-teman wartawan di Bali dalam mencari informasi selama COVID-19?," katanya.

Merespons hal itu, Kabiro ANTARA Bali Edy M Ya'kub menyampaikan terima kasih atas kunjungan Humas Konjen AS di Surabaya disela-sela Bali Democracy Forum (BDF) ke-14 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali (10/12/21) yang diikuti 50 perwakilan negara dan organisasi internasional, termasuk Menlu Amerika Serikat Antony Blinken, Menlu China Wang Yi, Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, dan Menlu Selandia Baru Nanaia Mahuta.

"Kami siap diajak bekerja sama untuk mengatasi hoaks, karena hoaks adalah musuh bersama seperti halnya COVID-19, apalagi Bali sebagai kawasan pariwisata akan sangat dirugikan dengan adanya hoaks. Sebagai Kantor Berita, ANTARA tidak hanya menjalin kerja sama dengan teman-teman media massa sebagai mitra utama, tapi juga siap bekerja sama dengan siapapun untuk melawan hoaks yang merugikan publik," katanya.

Terkait dampak COVID-19 pada masyarakat Bali, Edy menyatakan Bali sebagai kawasan pariwisata merupakan kawasan yang paling terdampak dengan segala bentuk bencana, apalagi bencana yang bersifat agak lama, seperti Pandemi COVID-19 (2019-2021) atau erupsi Gunung Agung (2017).

"Bali memang paling terdampak dibandingkan daerah lain di Indonesia, karena pariwisata memberi kontribusi pendapatan hingga 63,4 persen pada Pulau Dewata, sehingga pengaruh terhadap pariwisata akan sangat terasa dampaknya," katanya.

Namun, katanya, Pandemi COVID-19 telah menyadarkan masyarakat dan pemerintah di Bali untuk melirik potensi lain secara seimbang yakni pertanian dan UMKM (kerajinan) serta mendorong pariwisata budaya sebagai primadona dibandingkan dengan wisata alam, karena budaya merupakan keunggulan masyarakat Bali.

"Karena itu, kami juga mengapresiasi bila Konjen AS di Surabaya menjalin kerja sama dengan masyarakat dan pemerintahan di Bali untuk mengembangkan potensi pertanian, kerajinan/UMKM, dan pariwisata budaya," katanya, yang direspons positif oleh Kepala Humas Konjen AS Angie Mizeur. (*)

Pewarta: Ayu Khania Pranishita

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2021