Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar mendukung penuh perajin batik di Kota Kediri, Jawa Timur, untuk terus berkarya saat pandemi COVID-19. Dukungan itu ditunjukkan dengan mengunjungi gerai batik di Kelurahan Dermo, Kota Kediri. 

Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar mengajak masyarakat Kota Kediri untuk lebih mengenal batik lokal asli daerahnya. 

"Di Hari Batik Nasional, mari kita peringati dengan berbelanja batik asli dari wilayah kita sendiri, yaitu wilayah Kota Kediri, karena dengan membeli batik yang asli yang benar-benar di gambar bukan printing, kita mendukung karya mereka, ada nilai di dalam sana," kata Bunda Fey, sapaan akrabnya, di Kediri, Jumat.

Ia juga mengatakan perkembangan batik di Kota Kediri terus bertambah. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Kediri ada 30 merek batik yang tersebar di seluruh kelurahan, di antaranya di Dermo, Mrican, Dandangan, dan Rejomulyo. 

Bunda Fey juga berharap ke depan akan ada regenerasi dari kaum muda yang menekuni batik.  

"Kediri khasnya itu dengan batik-batik yang motifnya ringan, enteng, bukan yang seperti Solo dan Yogya. Kami mengapresiasi batik mereka, karena motif-motif yang ada dari lingkungan kita. Untuk regenerasi, ini Mbak Nunung memanfaatkan mayoritas ibu-ibu, belum ada yang muda-muda. Harapan saya nanti anak turunnya nanti maulah mengikuti jejak orang tuanya," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri Nur Muhyar mengatakan pada peringatan Hari Batik Nasional sebelum pandemi, para perajin berkreasi dengan membagi-bagi suvenir di simpang-simpang jalan atau mencanting bersama di taman. Namun, saat ini hal-hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan. 

"Jadi, sebagai penanda Hari Batik Nasional, Bapak Wali Kota dan Ketua Dekranasda Kota Kediri berkenan untuk mengunjungi salah satu pelaku usaha batik. Kegiatan ini dilakukan untuk lebih menekankan kecintaan pada batik sejak dini," ungkap Nur Muhyar.

Nur Muhyar juga menyampaikan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Kediri untuk para pelaku usaha batik, di antaranya mendorong perajin batik sejak 10 tahun terakhir dengan Perwali Nomor 15 Tahun 2016, yaitu setiap hari Selasa harus mengenakan batik lokal.

"Kami juga pernah memagangkan para pelaku batik ke Yogya selama satu pekan untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka. Kami juga fasilitasi batik mark untuk pelaku batik sebagai penanda itu merupakan batik asli Indonesia, batik nusantara dari Kemenperin. Dan saat ini jumlah perajin ada 30, tapi untuk sentra berada di Kelurahan Dermo dan Dandangan. Dengan peminat yang terus meningkat bahkan sampai luar kota," kata Nur.

Nur berharap, di hari batik nasional ini para pelaku batik lebih inovatif dan mengeksplorasi motif-motif yang menampilkan kerifan lokal. 

"Banyak sekali potensi yang mungkin perlu diangkat lagi. Misalkan tentang sejarah panji, kemudian potensi lokal yang lain seperti Goa Selomangleng. Ada motif kuda lumping, motif getuk pisang, motif tahu, motif topeng panji sudah muncul itu kita harapkan lebih kreatif lagi menampilkan motif-motif baru supaya customer tidak bosan, jadi tetap ada dinamikanya," jelas Nur.

Dalam kegiatan ini, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar juga ikut serta mendampingi Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar berkunjung ke gerai batik milik Nunung Wiwin Ariyanti, pemilik "Numansa Batik" yang ada di Kelurahan Dermo, Kota Kediri. 

Wali Kota dan Ketua Dekranasda Kota Kediri juga sempat belajar mencanting. Mereka juga melihat anak-anak yang belajar mencanting mengikuti pola di masker. 

Dalam kunjungan tersebut, Wali Kota Kediri dan Ketua Dekranasda Kota Kediri juga memberikan cinderamata untuk anak-anak agar semakin termotivasi untuk berkreasi. (*)

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2020