Pemerintah Kota Batu sedang menyiapkan berbagai regulasi untuk mendukung pembangunan kereta gantung sepanjang lima kilometer guna meningkatkan kegiatan pariwisata di wilayah tersebut.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan bahwa regulasi tersebut diharapkan bisa rampung pada 2019 agar pembangunan kereta gantung dapat mulai berjalan pada 2020.

"Kami mempersiapkan supaya regulasi selesai pada 2019. Ada hal-hal khusus yang harus diatur, seperti harus ada izin udara, karena ini kereta gantung," kata Dewanti, pada Brawijaya Tourism Forum, di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis.

Dewanti menjelaskan, kereta gantung yang direncanakan menghubungkan antara wilayah Pendem, Kecamatan Junrejo, hingga Panderman, Kecamatan Batu, akan memiliki empat titik pemberhentian.

Namun, Dewanti belum merinci titik-titik mana saja yang akan dijadikan wilayah pemberhentian kereta gantung. Pembiayaan untuk membangun kereta gantung itu diperkirakan sebesar Rp300 miliar hingga Rp500 miliar.

"Investor yang akan mendanai berasal dari masyarakat, yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Batu," ujar Dewanti.

Pengerjaan kereta gantung tersebut akan menggandeng perusahaan asal Wolfurt Austria, Doppelmayr. Doppelmayr merupakan perusahaan terkemuka dunia yang telah membangun berbagai instalasi kereta gantung di dunia.

"Ini bukan transportasi umum, tapi transportasi wisata," tutup Dewanti.

Kota Batu merupakan salah satu destinasi wisata di Jawa Timur. Pada 2018, tercatat jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Batu mencapai 5,6 juta wisatawan, lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebanyak 5,2 juta kunjungan wisatawan.

Dari total jumlah wisatawan yang berkunjung pada 2018 tersebut, terbagi dalam dua kategori yakni sebanyak 722.967 untuk wisatawan menginap di Kota Batu, dan 4,8 juta lainnya merupakan kategori wisatawan ke daerah kunjungan wisata.

Pewarta: Vicki Febrianto

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019