Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai jika Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya sekaligus Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Eri Cahyadi dipasangkan, maka akan bisa mencairkan faksi-faksi di internal PDI Perjuangan untuk memenangkan Pilkada Surabaya 2020.

"Menurut saya itu bisa mencairkan faksi-faksi di internal PDI Perjuangan jika keduanya bisa dipasangkan. Dalam politik semua kemungkinan bisa terjadi dan dinamis apalagi variabel yang berpengaruh juga kian banyak dan kompleks dalam menentukan kandidat yang akan di usung. Semua ujungnya agar kandidat bisa kompetitif," kata Surokim kepada ANTARA di Surabaya, Jumat.

Menurut dia, tiga faksi di PDI Perjuangan tersebut yakni faksi Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), faksi Bambang Dwi Hartono (Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan sekaligus mantan Wali Kota Surabaya) dan Whisnu Sakti Buana (Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya sekaligus Wakil Wali Kota Surabaya).

Tiga faksi itu, lanjut dia, yang akan menentukan antara faksi Wishnu representasi struktur partai, Risma kader birokrat dan Bambang Dwi Hartono representasi dari PDI Perjuangan basis kultural. Kontestasi dan relasi antarketiga faksi itu yang akan menentukan dinamika Pilkada Surabaya.

"Secara matematis yang biasanya menentukan prosentase terbesar tetap ada pada DPP PDI perjuangan dalam hal ini adalah ketua umum partai, lalu besarnya dukungan arus bawah baik kader maupun pemilih. Kombinasi dua hal itu yang akan menentukan dinamika termasuk jaringan lobi dan komunikasi lintas sektor," katanya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo menilai jika bisa dipasangkan pasangan Whisnu- Eri lumayan ideal untuk Surabaya sekarang sebagai kombinasi kader partai dan birokrat profesional. 

Bagaimanapun, lanjut dia, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu punya harga diri untuk mendorong kadernya jadi Calon Wali Kota Surabaya. Sementara Eri sebagai birokrat profesional bisa memahami visi  keberlanjutan pembangunan Surabaya ala Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. 

Jika itu bisa disatukan dan mendapat restu tentu bisa menyolidkan faksi-faksi yang ada selama ini di internal PDI Perjuangan. Namun, kata dia, jalan ke arah itu tentu tidak mudah karena pososi Calon Wakil Wali Kota  juga menjadi ajang rebutan berbagai pihak.

"Memang sulit memasangkan kandidat yang sama-sama potensial. Tentunya diperlukan komunikasi politik yang intens dan bisa saling menjajagi, termasuk yang paling kuat ya kehendak DPP dalam hal ini ketua sebagai pemilik restu," katanya.

Adapun faksi Bambang DH sejauh ini sebenarnya lebih suka mengusung kader asli PDI Perjuangan dan pilihan itu sudah ada di Whisnu Sakti Buana. Menurutnya hal itu akan bisa menerima jika jatah Calon Wali Kota Surabaya diberikan ke kader stuktural.

Saat ditanya jika faksi Bambang DH akan mengusung Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin (Gus Ipin) maju di Pilkada Surabaya 2020,  menurut Surokim masih butuh energi ekstra karena Calon Wali Kota Surabaya itu kelasnya jelas masuk garis orbit nasional dan butuh tokoh yang sudah teruji dan mendapat tempat istimewa di DPP PDI Perjuangan, dalam hal ini ketua umum.

Ia menyarankan lebih baik Gus Ipin fokus di Trengalek dulu hingga agar publik lebih banyak mengenal karena bagaimanapun kontes Surabaya itu jauh lebih kompleks dan berat. "Maksud saya bukan soal kapasitas dibanding Whisnu tetapi publik masih ingin melihat Gus Ipin sukses di Trengalek sebagai modal sosial ke depannya. Gus Ipin mesti harus hati-hati melihat peta politik Surabaya dan tidak muda tergoda," katanya.

Hanya saja, lanjut dia, yang mungkin perlu diperhitungkan dengan cermat adalah kemungkinan munculnya calon yang bisa saja dimunculkan dan didrop dari DPP PDIP melalui ketua umum, di luar nama-nama yang telah beredar selama ini dalam bentuk penugasan partai dan itu mungkin mungkin saja.

"Malah itu yang kemudian bisa mengancam Mas Wishnu," ujar peneliti Surabaya Survey Center (SSC) ini.

Menurutnya, semua sedang dalam posisi merebut ruang pengaruh baik  di internal maupun di eksternal.  "Kita juga belum tahu jangan-jangan ada kader penugasan dari DPP PDI Perjuangan yang sedang disiapkan bu Megawati, kita semua juga belum tahu," katanya.

Saat ditanya apakah kader penugasan dari DPP PDI Perjuangan yang dimaksud adalah Puti Guntur Soekarno Putri, Surokim mengatakan Puti dalam berbagai kesempatan menyatakan secara terbuka tidak mau maju di Pilkada Surabaya karena bisa saja turun kelas dari Pilkada Jatim ke Pilkada Surabaya.

"Bu Megawati tentu akan menanyakan kesediaannya, apalagi Mbak Puti juga baru saja terpilih jadi anggota DPR RI. Saya rasa bu Mega akan memberi penugasan di parlemen yang lebih penting. Tapi saya yakin Bu Mega tetap akan melihat arus dukungan bawah dan juga hasil-hasil survei untuk menentukan calon Wali Kota Surabaya," katanya. (*)


 

Pewarta: Abdul Hakim

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019