Wali Kota Malang Sutiaji memastikan sekaligus menjamin pasokan dan ketersediaan kebutuhan bahan pangan pokok selama Ramadhan hingga Lebaran 2019 di kota pendidikan itu aman.

"Masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan bahan pokok di pasaran. Stok untuk Kota Malang cukup aman. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu melakukan 'panic buying'. Berbelanja sewajarnya saja," kata Sutiaji di sela Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Balai Kota Malang, Jawa Timur, Senin.

Pemkot dan TPID Kota Malang, katanya, akan berupaya menjaga stok pangan di kota itu mencukupi, sehingga akan tercipta rasa aman dan nyaman agar kondisi serta stabilitas pangan di Kota Malang tetap terjaga dengan harga terkendali.

Untuk mengamankan sekaligus menjaga stabilitas pangan dengan harga terkendali tersebut, langkah yang bakal ditempuh Pemkot Malang dan TPID, di antaranya melakukan operasi pasar, pemantauan harga hingga bazar sembako murah dengan menggandeng berbagai lembaga dan komunitas.

Pada kesempatan itu, Sutiaji juga berpesan kepada Satgas Pangan Kota Malang untuk terus melakukan operasi dan pemantauan terhadap distributor agar tidak terjadi penimbunan bahan pokok yang akan berdampak pada tingginya harga di pasaran, bahkan terjadi kelangkaan produk.

Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Malang Fachria Latuconsina menegaskan stok sejumlah komoditas pangan, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan tepung terigu juga dinyatakan aman sampai 6 bulan ke depan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Azka Subhan A mengemukakan setelah Rakor TPID tersebut, tim juga direncanakan turun langsung ke pasar-pasar guna memantau lebih lanjut harga dan ketersediaan bahan pokok di tengah masyarakat.

Pada Mei bersamaan dengan Ramadhan dan menjelang Lebaran, kata dia, beberapa komoditas dan jasa yang perlu diwaspadai, yakni tiket angkutan udara, bawang putih, bawang merah, cabai merah, telur ayam, daging ayam, tomat, dan sayuran.

"Komoditas beras memang perlu diwaspadai karena memiliki andil terhadap inflasi cukup besar. Namun, Bulog sudah memastikan jika stok beras sangat mencukupi,” katanya.

Meski begitu, Tim TPID Kota Malang akan turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan harga. Faktor cukup berat angkutan udara karena hal itu kebijakan dari kantor pusat, sehingga daerah tidak bisa mempengaruhinya.

Untuk bawang putih, ia optimistis harganya akan segera turun. Bersamaan dengan dibongkarnya komoditas tersebut keluar dari gudang Bea dan Cukai yang didistribusikan ke masyarakat, mengingat bawang putih secara nasional 90 persen lebih adalah impor.

Pada April 2019, Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,44 persen yang dipicu aantara lain oleh angkutan udara.

Sebelumnya, Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan inflasi di Kota Malang tersebut tertinggi kedua se-Jawa Timur setelah Jember dengan 0,45  pesren. "Inflasi April 2019 dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditas, di antaranya angkutan udara, bawang putih, bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, tomat sayur, semen, pasir, bandeng, dan selada.

Sementara itu, Tim TPID Kota Malang dalam paparannya pada Rakor TPID di Balai Kota Malang menyebutkan bahwa penyumbang inflasi tertinggi di bulan Mei ini diduga adalah tiket pesawat dan bawang putih. (*)


 

Pewarta: Endang Sukarelawati

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019