Dewi Lutfiatun Nadhifah (30), seorang pengawas pemilu di TPS 10 Desa Seruni, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami keguguran karena kelelahan usai mengawasi TPS di desa itu Rabu (17/4) sejak pukul 06.00 WIB hingga Kamis (18/4) dini hari.

Paling tidak tercatat sebanyak 91 petugas KPPS/PPS kehilangan nyawanya dalam tugas melaksanakan Pemilu 2019, selain sekitar 370 orang yang dirawat di rumah sakit, bunuh diri atau mencoba bunuh diri, keguguran, dan lain sebagainya. Belum lagi polisi-polisi yang gugur dalam tugas negara itu. 

Berangkat dari itu, berkembang wacana dan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan pemilu, mulai dari pelibatan tenaga medik hingga pemisahan pelaksanaan pemilu untuk tingkat nasional dan daerah.

"Kondisinya masih lemah dan perlu banyak istrirahat usai keguguran, namun kondisinya sudah membaik," kata anggota Badan Pengawas Pemilu Jember, Devi Aulia Rahim, usai menjenguk Dewi, di rumahnya di Desa Seruni, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Selasa.

Ia mengatakan bahwa Dewi yang bertugas sebagai pengawas TPS 10 di Desa Seruni awalnya mengalami sedikit pendarahan pada Kamis dini hari (18/4), usai mengawasi pemungutan suara di TPS.

Pendarahan terus terjadi yang disertai dengan kondisi sakit perut, sehingga diperiksakan ke dokter untuk memastikan kesehatannya.

"Dokter menyampaikan bahwa usia kandungan Dewi hampir tujuh minggu dan janinnya masih bisa bertahan, namun sepulang dari dokter terjadi pendarahan lagi hingga pengawas TPS itu mengalami keguguran karena kelelahan," tuturnya.

Ia sangat berduka-cita mendalam atas peristiwa itu, dimana Dewi terpaksa harus kehilangan calon anaknya yang kedua setelah tujuh tahun menunggu demi mengawal proses demokrasi di TPS 10 Desa Seruni.

"Berdasarkan catatan kami, ada beberapa pengawas Pemilu yang pingsan hingga sakit dan dirawat inap di Puskesmas atau rumah sakit karena kelelahan bekerja melakukan pengawasan di TPS, desa/kelurahan hingga kecamatan," katanya.

Beberapa pengawas yang sakit karena kelelahan, di antaranya dua orang pengawas TPS di Kecamatan Jenggawah, satu pengawas pemilu tingkat kelurahan di Kecamatan Kaliwates harus menggunakan infus di rumah, satu staf Panwas Kecamatan Arjasa yang sakit, dan satu anggota Panwas Kecamatan Wuluhan yang harus mendapatkan suntikan dari dokter setiap 12 jam sekali.

Sementara anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, Muhammad, menilai penghargaan negara terhadap penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan hingga ke bawah masih kurang karena honor yang diterimanya masih jauh dari kata layak.

"Kami ikut berduka cita terhadap penyelenggara pemilu dan pengawas yang tumbang, sakit, hingga meninggal dunia karena proses pemilu. Mereka adalah pahlawan, namun saya melihat penghargaan negara belum memadai," katanya, saat mengunjungi Kantor KPU dan Bawaslu Jember.

Pewarta: Zumrotun Solichah

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019