Surabaya (Antaranews Jatim) - Pakar di bidang kebudayaan, bahasa dan filsafat Prof. Dr Abdul Hadi Wiji Muthari menyebut nasionalisme tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dipelajari melalui berbagai ilmu pengetahuan.

"Semboyan Bineka Tunggal Ika itu dulu yang mengusulkan adalah M Yamin. Dia ahli sejarah yang merumuskan bahwa bangsa Indonesia yang majemuk dengan 400 lebih suku bangsa dari satu rumpun ras melayu mongoloid harus bersatu," katanya, saat menjadi pembicara di diskusi pembacaan puisi di Surabaya, yang berlangsung hingga menjalang Sabtu dini hari.

Guru besar di bidang falsafah dan agama dari Universitas Paramadina, Jakarta, itu mengungkapkan, Bineka Tunggal Ika bisa menyatukan masyarakat Indonesia yang berasal dari 400 lebih suku bangsa tak lain melalui ilmu pengetahuan.

Budayawan yang juga penyair asal Sumenep, Madura, Jawa Timur, itu merasakan sendiri ketika mengenyam kuliah S1 di jurusan Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, di penghujung tahun 1960-an, atau pasca peristiwa Gerakan 30 September/ PKI. Dia menyatakan memperoleh ilmu pengetahuan yang sama, sehingga tidak pernah terjadi perselisihan dengan teman-temannya sesama mahasiswa yang berasal dari berbagai suku bangsa Indonesia.

"Zaman saya kuliah dulu, mahasiswanya yang berasal dari berbagai suku, disatukan dengan ilmu pengetahuan yang sama tentang sosial dan antropologi," ujarnya.

Masyarakat era sekarang, sedikit-sedikit terjadi cekcok, menurut dia, karena tidak mendapat ilmu pengetahuan yang sama, khususnya tentang konsep kebinekaan.

Dia menekankan, jangan harap pemahaman nasionalisme datang dengan sendirinya tanpa mempelajari ilmu pengetahuan. Itulah menurut dia yang menyebabkan nalar berpikir masyarakat Indonesia menjadi rendah dalam menerima beragam perbedaan.

Abdul Hadi mengungkapkan, salah satu ilmu pengetahuan yang bisa memberi pemahaman tentang nasionalisme adalah sastra.

"Karena ilmu sastra dikembangkan dari tradisi dan kebudayaaan di mana pengarangnya dilahirkan. Karya sastra lahir dari latar belakang pendidikan penulisnya. Sastra modern juga dipelajari oleh penulis sastra," katanya.

Selain itu, dia menandaskan, ilmu pengetahuan politik dan ideologi juga mempengaruhi karya sastra. "Berbagai ilmu pengetahuan berakar menjadi satu dalam karya sastra, sehingga mempengaruhi nalar berpikir yang positif bagi siapapun yang mempelajarinya," ucapnya. (*)

Pewarta: Hanif Nashrullah

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018