Ponorogo  (Antara Jatim) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengingatkan para calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menyiapkan mental, bahasa, keterampilan dan budaya negara tempat kerja yang dituju.

“Perlu saya ingatkan, sebelum berangkat ke luar negeri para TKI harus siap mental, bahasa, keterampilan dan budaya. Sehingga bila sudah berada di luar negeri tidak timbul masalah,” kata Menaker Hanif Dhakiri saat memberikan pengarahan kepada para calon TKI di Gedung Kesenian Kabupaten Ponorogo dalam rangkaian kerjanya ke Ponorogo, Jawa Timur, Senin (18/12).

Kesiapan mental, kata Menaker sangat penting karena banyak cerita buruk terkait masalah yang dialami para TKI di luar negeri akibat dari tidak siapnya mental TKI.

“Jadi siapkan dulu mental bahwa Anda akan bekerja ke negeri orang. Mengapa ini perlu saya sampaikan? karena banyak cerita buruk tentang para pekerja migran kita,” ujarnya.

Dia membandingkan mental para TKI dengan tenaga kerja Filipina. Menurutnya para pekerja dari Filipina lebih memiliki keberanian dibandingkan para TKI.

“Orang Filipina itu misalnya gajinya sebulan saja tidak dibayar, mereka akan berjuang keras, melakukan protes. Namun saya pernah bertemu orang Indonesia yang gajinya tidak dibayarkan selama 10 tahun, mau menanyakan saja tidak berani,” katanya.

Kemampuan dalam berbahasa, lanjut Menaker Hanif Dhakiri juga penting. Karena para TKI harus menggunakan bahasa negara tempat mereka bekerja untuk berkomunikasi sehari-hari.

“Harus diketahui bahwa bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi selama bekerja di luar negeri nanti adalah bahasa mereka. Maka dari itu harus menguasai bahasa mereka, setidaknya bahasa praktis kaitannya dengan pekerjaan,” ucap Menaker.

Misalnya bila bekerja di sektor rumah tangga, tambah Menaker maka calon TKI harus menguasai bahasa yang tarkait dengan hal-hal rumah tangga. “Misalnya seterika itu dalam bahasa mereka apa? Tomat itu apa? Jangan sampai majikan minta tomat diberi paku,” kataya.

Menurut Menaker Hanif Dhakiri, terkadang ada calon TKI memiliki keterampil cukup baik, namun karena tak menguasai bahasa akhirnya bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Memahami budaya negara tempat bekerja, katanya juga penting. Misalnya orang suku Jawa itu banyak yang akrab dengan jimat. Bagi negara tertentu, katanya jimat bisa dianggap sihir.

“Para calon TKI harus mengetahui budaya di tempat yang akan mereka tuju. Misalnya, orang Jawa terkadang memiliki jimat, nah kalau di Arab Saudi, jimat itu bisa dikategorikan sihir. Ini harus dipahami. Karena memiliki sihir itu bisa dipidana,” katanya.


Pewarta: Siswowidodo

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017