Kediri (Antara Jatim) - Peneliti menduga bangunan situs yang ditemukan di Desa Adan-adan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang disebut warga sebagai candi gempur adalah bangunan yang masih belum selesai dibangun, sehingga belum ditemukan struktur candi yang utuh.

"Ada indikasi bangunan ini sejak awal belum selesai. Bisa ditinggal pendukungnya atau karena bencana alam," kata Ismail Lutfi, salah seorang peneliti ditemui di lokasi ekskavasi, Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin.

Ia mengatakan peneliti juga masih melakukan penyelidikan terkait dengan sebutan candi gempur di lokasi temuan tersebut.

Dari temuan itu, diketahui batu batu sudah banyak yang berpindah alamat, berserakan begitu saja, bahkan beberapa juga dibuat menjadi rumah penduduk.

Ia juga mengatakan, dari hasil ekskavasi yang dilakukan, ternyata tim menemukan struktur batu bata yang tertata.

Ada delapan lapis dengan bangunan yang cukup kompak. Struktur tersebut tertimbun cukup lama dan ternyata masih utuh.

Di lokasi itu, kata dia, tim merencanakan penggalian hingga sembilan kotak, namun tidak semuanya digali.

Dari kedalaman sekitar 3 meter, tim juga sudah menemukan struktur banguan serta beragam arca, namun untuk kepastian abad ditemukan, tim masih melakukan pengkajian lebih dalam.

"Untuk tahun belum bisa hitung pasti, namun perkiraan ini abad II dari Kerajaan Kadiri. Setelah ini, kami lakukan penelitian lagi, untuk lebih akuratnya. Kami belum temukan konteks data tekstualnya, jadi ada bantuan dari kajian geologi," ujar ahli bidang epigrafi di sebuah universitas negeri di Malang ini.

Sementara itu, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sukawati Susetyo menambahkan selama melakukan ekskavasi, ia dengan tim tidak mengalami kesulitan berarti.

Semua tim melakukan tugasnya masing-masing demi melakukan penelitian.

Ia juga mengatakan hasil penemuan ini juga istimewa. Untuk temuan makara cukup tinggi hingga 2,3 meter dan menurut dia ini tertinggi di Indonesia. Rata-rata temuan makara selama ini di bawah ukuran 2 meter. Begitu juga Arca Dwarapala, yang istimewa.

"Yang membuat beda temuan ini istimewa. Makara setinggi 2,3 meter dan ini tertinggi di Indonesia. Belum pernah menemukan selain setinggi ini," kata Sukawati.

Lebih lanjut, ia mengatakan di lokasi ini juga ditemukan Arca Dwarapala, yang juga istimewa. Arca ini berdiri dengan tegak, namun juga belum selesai dibuat. Masih terdapat beberapa pola, misalnya di anting sebelah kiri sudah dihias tapi bagian kanan masih polos. Untuk bagian kanan juga ditemukan pola ular bermahkota dan belum jadi.

Sementara itu, Pemkab Kediri juga masih mempertimbangkan untuk pembebasan lahan di lokasi temuan tersebut. Situs itu ditemukan di lahan milik warga, yang berada di kebun buah durian. Pemkab juga berkomitmen mendukung ekskavasi itu, di antaranya dengan memberikan anggaran.

Temuan itu juga membuat warga berduyun-duyun datang ke lokasi. Mereka penasaran dengan temuan situs tersebut, dan ingin menonton secara langsung. Warga juga nekat menerobos pagar yang dibuat oleh tim, demi melihat secara langsung temuan situs tersebut. (*)

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Endang Sukarelawati


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017