Surabaya (Antara Jatim) - Sebanyak 1.500 siswa SD, SMP, dan SMA "Khadijah" Wonokromo, Surabaya mengikuti peringatan Hari Asyuro atau 10 Muharam 1438 Hijriah di lapangan sekolah setempat, Selasa, yang antara lain ditandai dengan makan bubur syuro bersama.

Bubur syuro merupakan bubur beras yang ditempatkan dalam sebuah wadah untuk disajikan dengan beragam lauk. Dalam acara di "Khadijah" itu, lauk bubur syuro antara lain kacang, ayam, pentol hingga tumis tempe.

"Baru pertama kali mencoba, saya baru tahu kalau ada tradisi bubur pada 10 Muharam, yang penting ya makan saja," kata siswi kelas 5 SD Khadijah, Nayla Zahrah, sembari menikmati bubur dari pihak panitia.

Senada dengan itu, siswi kelas 4, Vania Linda Apsari (9), juga merasa cukup aneh dengan buburnya.

"Tapi, saya paham maknanya agar kita tetap mau berbagi dalam kondisi sederhana. Ini seperti makan nasi, ya pasti bisa kenyang kalau mau disedekahkan," katanya.

Di sela kegiatan yang juga diikuti puluhan guru Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) "Khadijah" Wonokromo, Surabaya itu, ketua panitia HM Rochman Firdian menjelaskan makan bubur syuro itu merupakan bagian dari kegiatan memperingati 10 Muharam.

"Kami mengawali peringatan itu dengan ceramah agama dan santunan kepada 180 anak yatim berupa alat perlengkapan sekolah dan tali asih," kata guru agama SMP Khadijah, Wonokromo, Surabaya itu.

Acara diakhiri dengan tasyakuran berupa prosesi makan bubur syuro bersama 1.500 siswa SD, SMP, dan SMA.

"Bubur syuro itu merupakan tradisi orang Jawa Islam pada masa Walisongo. Pada masa itu, kondisi masyarakat dalam kesusahan, sehingga mereka memanfaatkan beras 'sak kepel' (beras dalam jumlah kecil) untuk bubur agar bisa disedekahkan untuk orang banyak," katanya.

Oleh karena itu, para wali dan ulama merancang kegiatan untuk tetap dapat merayakan Muharam sebagai bulan bersyukur, bulan berbagai, dan bulan bersedekah.

"Para penyebar agama Islam di Jawa itu mengajurkan untuk bersedekah pada 10 Muharam itu. Sekolah kami mengadakan peringatan Hari Asyuro ini untuk meneruskan tardisi para wali dan ulama untuk bersedekah dalam kondisi apapun," katanya.

Namun, pihaknya juga mewujudkan budaya itu dengan memberikan santunan kepada anak yatim yang ada di sekitar sekolah dan beberapa panti asuhan di Surabaya. (*)

Pewarta: Edy M Yakub

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016