Kudus (Antara) - Ribuan warga dari sejumlah daerah di Kabupten Kudus, Selasa, memadati kompleks Makam Sunan Kudus untuk memperebutkan nasi uyah asem dan nasi jangkrik goreng pada ritual buka luwur.

Tradisi buka luwur yang diselenggarakan setiap 10 Muharam atau pada Selasa (11/10), merupakan ritual keagamaan untuk menandai penggantian kelambu di makam Sunan Kudus.

Rukayah, salah seorang warga asal Desa Prambatan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Selasa, mengakui, tidak pernah ketinggalan untuk antre mendapatkan nasi uyah asem (jawa) atau nasi jangkrik goreng setiap 10 Muharram.

Ia mempercayai, nasi bungkus yang diperoleh dari prosesi buka luwur akan membawa berkah. 

Siti, warga asal Desa Jetak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, mengaku, antre sejak pukul 05.00 WIB, untuk mendapatkan sebungkus nasi uyah asem. 

Selama ini, kata dia, dirinya memang sering hadir di acara buka luwur untuk mendapatkan nasi uyah asem.

Meskipun harus berdesak-desakan, dia mengaku, tidak mempermasalahkan, karena kondisinya setiap tahun seperti itu.

Nasi uyah asem yang diperoleh tersebut, katanya, akan dibawa pulang untuk dikonsumsi bersama anggota keluarganya serta diberikan untuk sanak saudaranya.

Sejumlah warga yang mendapatkan nasi uyah asem tampak semangat menyantapnya bersama rekan-rekannya.

Warga juga ada yang memanfaatkan nasi tersebut untuk bahan campuran makanan ayam atau ternak lain dengan harapan tidak mudah terserang penyakit. 

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Muhammad Nadjib Hassan menjelaskan, berkat buka luwur dengan masakan uyah asem dan jangkrik goreng disediakan sebanyak 31.254 bungkus, sedangkan nasi yang dikemas dengan keranjang sebanyak 2.100 bungkus.

Daging dan nasi yang dibagikan tersebut, kata dia, berasal dari masyarakat dengan inisiatif sendiri memberikan bantuan.

Selain mendapatkan bantuan uang, kata dia, panitia juga mendapatkan bantuan berupa beras, kerbau, dan kambing serta bumbu-bumbuan.

Beras yang diterima, kata dia, sebanyak 14,5 ton, kerbau 10 ekor dan kambing sebanyak 70 ekor.

Pekerja yang bertugas di dapur, kata dia, mencapai puluhan, sedangkan jumlah relawan mencapai ratusan orang.

Pembungkus nasi tetap menggunakan bahan alami, seperti daun jati serta pengikatnya tidak lagi menggunakan tali dari bahan plastik, melainkan menggunakan serat tanaman. 

Sementara kebutuhan kain mori untuk mengganti mori yang terpasang di Makam Sunan Kudus sejak satu tahun yang lalu, kata dia, menghabiskan sekitar 1.600 meter dan 105 meter kain gorden. (*)

Pewarta: Supervisor

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016