Trenggalek (Antara Jatim) - Kepolisian Resor Trenggalek, Jawa Timur, menggunakan pendekatan persuasi dalam pembinaan keselamatan berlalu lintas bagi pelajar SD dan SMP yang marak mengendarai sepeda motor saat bersekolah.
    
Sosialisasi keselamatan berkendara itu secara sporadis dilakukan aparat kepolisian di sejumlah sekolah dasar, SMP serta forum kepala sekolah SD-SMP se-Munjungan di Munjungan, Sabtu.
    
"Sosialisasi kami lakukan sebagai bentuk pembinaan untuk meminimalkan potensi kecelakaan, terutama di kalangan pelajar," kata Kasat Lantas Polres Trenggalek AKP Heru Sujiyo BS di sela kegiatan.
    
Didampingi sejumlah perwira dan anggota satlantas lain, Heru memimpin pengarahan langsung program "safety riding" atau keselamatan berkendara saat ratusan pelajar SMP Negeri 1 Munjungan keluar dari sekolah dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.
    
Persis di area pintu gerbang sekolah, beberapa petugas memberikan sosialisasi terkait kewajiban mengenakan sarana keselamatan berkendara seperti helem serta alat kelengkapan sepeda motor lain seperti lampu, sein, rem, spion hingga plat nomor dan STNK.
    
Tidak ada satupun pelajar yang ditilang oleh petugas. Polisi hanya memperingatkan agar selanjutnya pelajar tetap mengindahkan aturan berlalu lintas.
    
"Kami akan persuasi pelan-pelan mengingat pelajar yang menggunakan sepeda motor di wilayah ini, khususnya Munjungan sangat banyak karena alasan jarak rumah yang jauh dan medan sulit. Tapi ke depan aturan harus ditegakkan," kata Heru.
    
Imbauan serupa dilakukan Kapolsek Munjungan AKP Totok Sudarto saat menggelar sosialisasi keselamatan berkendara di SD Negeri 1 Bendoroto.
    
Saat memberikan paparan dan pembinaan di hadapan pelajar SD kelas V dan VI serta saat bersosialisasi dengan wali murid di halaman sekolah, Totok mengingatkan agar pelajar menggunakan helem pengaman sebagai syarat mutlak keselamatan berkendara.
    
Kendati mentoleransi budaya berkendara di kalangan pelajar yang disebut Totok sebagai fenomena yang sulit dicegah/larang, ia berulangkali mengimbau para orang tua ataupun wali murid agar meluangkan waktu mengantar anak-anaknya saat berangkat dan pulang sekolah.
    
Jumlah pelajar SD dan SMP yang mengendarai sepeda motor ke sekolah di wilayah Munjungan serta beberapa wilayah pegunungan atau daerah terpencil di Trenggalek memang marak.
    
Di SMPN 1 Munjungan dan MTSN Munjungan, misalnya, hampir 90 persen pelajar kelas VII hingga IX mengendarai sepeda motor meski berusia di bawah 17 tahun dan belum memiliki SIM.
    
Pemandangan hampir sama ditemukan di sejumlah sekolah dasar di beberapa desa Munjungan, seperti halnya di SDN 1 Bendoroto yang ada belasan siswa mengendarai sepeda motor ke sekolah karena alasan jarak rumah yang jauh sementara orang tua tidak bisa menghantar setiap hari.
    
"Estimasi kami hampir 70 persen siswa SD di Munjungan yang mungkin jumlahnya mencapai 5 ribuan lebih, mengendarai sepeda motor ke sekolah karena alasan sama: rumah jauh dari sekolah, medan sulit, dan orang tua sibuk kerja di hutan atau ladang sejak pagi hingga siang," kata Pengawas Pendidikan Agama Islam UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Munjungan, Sujito.(*)

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016