Banyuwangi (Antara Jatim) - PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melalui PT Mitra Banyuwangi Selaras (MBS) yang merupakan perusahaan jaringan perhotelan terkemuka di Indonesia dengan merek Alila memulai pembangunan Hotel Dialoog di Banyuwangi. Direktur BUVA Hendry Utomo di Banyuwangi, Kamis mengatakan kehadiran Dialoog dapat mengikuti kisah sukses merek terdahulunya, yaitu Alila. "Produk ini dimaksudkan untuk menjaring pangsa pasar yang menyukai desain Alila, namun pada harga yang lebih terjangkau, yang saat ini berkembang dengan sangat pesat di Indonesia," ujarnya seraya menjelaskan bahwa Alila dikenal sebagai resor kelas menengah atas di Bali. Saat ini, BUVA memiliki dua hotel resor yang beroperasi dengan menawarkan 133 unit hunian eksklusif yang terdiri dari 65 villa di Uluwatu, ditambah dengan 56 kamar dan 12 villa di Ubud. Di tahun 2014, pendapatan lini bisnis hotel BUVA mengalami pertumbuhan sebesar 17,8 persen (YoY) menjadi Rp 188 miliar dengan kontribusi terhadap total pendapatan sebesar 73 persen. "Tahun ini, BUVA menargetkan penambahan 240 kamar dan tingkat rasio occupancy rata-rata semua hotelnya mencapai 75 persen," kata Hendry. Direktur Utama MBS Winarti Indrajaya mengatakan Dialoog merupakan konsep hotel yang diciptakan untuk mengakomodasi pertumbuhan yang sangat pesat di segmen kelas menengah Indonesia. "Menggunakan DNA desain dari Hotel Alila, Dialoog menyajikan suatu konsep inovasi desain yang fokus pada kenyamanan tamu serta kecepatan dan kemudahan layanan melalui teknologi yang mutakhir untuk menghasilkan harga yang terjangkau," ujar Winarti. Menyoal pemilihan lokasi Dialoog di Kabupaten Banyuwangi, dia menyatakan, hal itu berdasarkan potensi alam yang beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan, pantai, dan taman nasional. Banyuwangi yang berjuluk "The Sunrise of Java" memiliki berbagai tempat wisata alam yang bagus seperti Kawah ijen, G-Land, Pantai Plengkung, Pantai Sukamade dengan konservasi penyunya, Taman Nasional Meru Betiri dan Alas Purwo, serta Pulau Merah. "Selain itu, Banyuwangi juga menyajikan berbagai acara dan seni budaya sepanjang tahun, antara lain Banyuwangi Ethno Carnival, festival batik, tari Gandrung. Kombinasi ini menjadikan Banyuwangi tujuan pilihan para wisatawan," kata dia. Di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, kata Winarti, Banyuwangi telah berkembang dengan sangat pesat, baik dari segi ekonomi maupun budaya. Hal inilah yang kemudian menarik perhatian para pengusaha, untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan, khususnya industri pariwisata di wilayah ini. "Dalam 2014, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Banyuwangi mencapai 30.000 orang, dengan rata-rata tinggal selama 2,5 hari, serta pengeluaran sebesar US$ 240 per orang. Dengan banyaknya tujuan wisata, tentunya Banyuwangi memerlukan fasilitas pendukung wisata seperti akomodasi yang memadai," ujarnya. (*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015