Malang (Antara Jatim) - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X berkomitmen meningkatkan kompetensi petani tebu rakyat di wilayah kerjanya guna menghadapi persaingan di era perdagangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum PTPN X, Djoko Santoso, di Malang, Rabu, menyatakan, upaya tersebut dilakukan dengan menerapkan program mekanisasi di lahan seluas 8.800 hektare. Melalui program itu diharapkan juga meningkatkan produktivitas lahan tebu menjadi 90 ton per hektare dibandingkan performa sebelumnya 85 ton per hektare. "Bagaimana jika melalui MEA mendatang Thailand dan negara tetangga lain datang ke Indonesia serta ingin menguasai pasar nasional. Sementara, kini biaya tenaga kerja semakin mahal misalnya UMK Sidoarjo hingga Rp2,75 juta per bulan," katanya, ditemui di Pelatihan Petani Tebu PTPN X di Malang pada 28-29 Januari 2015. Untuk menyiasati hal tersebut, perseroan menerapkan program mekanisasi dengan menggunakan alat sehingga saat panen tebu semakin cepat ditebang. Dengan demikian, melalui program mekanisasi proses giling tebu dapat dilaksanakan pada usia matang yakni satu tahun. "Tahun 2014, banyak tanaman tebu masih di usia delapan hingga sembilan bulan. Bahkan kadang dilakukan terlambat atau melebihi usia satu tahun," katanya. Mengenai pelatihan petani tebu PTPN X selama dua hari diharapkan dapat menghasilkan sistem terbaik dan bisa diterapkan pada tahun 2015. Di sisi lain, tahun ini pihaknya juga mengarah pada peningkatan mutu. "Seperti dengan melakukan diversifikasi melalui pemanfaatan energi (elektrifikasi). Hal itu terlihat di Pabrik Gula Ngadirejo kami yang tidak memakai uap tetapi menggunakan listrik," katanya. Program elektrifikasi itu, menurut dia, menjadi salah satu langkah diversifikasinya karena keuntungan dari produksi gula tidak besar. Untuk listrik, program tersebut sudah dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman pengadaan energi berkapasitas 100 MW terhadap tiga pabrik gula. "Selain PG Ngadirejo, ada pula PG Krembung, dan PG Pesantren. Kebetulan program elektrifikasi itu memperoleh bantuan dana dari Kementerian Perindustrian," katanya. Upaya diversifikasi itu, sebut dia, juga diwujudkan berupa produksi etanol dan berlokasi di Mojokerto. Sementara secara global, seperti di Thailand dan India ikut didukung oleh pengembangan industri turunan. "Dengan upaya ini kami ingin agar petani tebu semakin kuat dan mampu bersaing di kancah internasional. Selain itu, usaha taninya semakin menguntungkan dan harga gula sendiri akhirnya bisa makin baik," katanya.(*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015