Surabaya (Antara Jatim) - Wakil Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Pusat, Budidoyo meminta pemerintah membantu kinerja petani tembakau di Tanah Air untuk meningkatkan produktivitas lahan mereka pada masa mendatang. "Saat ini produksi panen tembakau dalam satu hektare mencapai hanya 0,7 ton hingga 1 ton," katanya di Surabaya, Senin. Oleh karena itu, imbau dia, pemerintah dapat mengoptimalkan bantuan mereka kepada para petani tembakau. Khususnya melalui pengalokasian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk program pendampingan petani dalam melakukan budidaya tembakau. "Dengan langkah tersebut produksi bisa dimaksimalkan," ujarnya. Apalagi, jelas dia, selama ini mereka yang bercocok tanam tembakau adalah petani tradisional dan pengadaan pupuknya juga tidak disubsidi. "Sementara itu, saat ini akibat perkembangan ekonomi di sejumlah wilayah di Indonesia, misalnya, perluasan area perumahan memicu kian sempitnya lahan pertanian termasuk lahan untuk menanam tembakau," tuturnya. Dampak lain, tambah dia, impor tembakau terus meningkat. Hal tersebut seiring besarnya kebutuhan tembakau di pasar nasional atau mencapai sekitar 300 ribu ton. "Padahal, produksi tembakau di Indonesia hanya 180 ribu ton hingga 200 ribu ton," ucapnya. Untuk Jatim, sebut dia, wilayah dengan produksi tembakau terbesar adalah Madura. Pulau Garam tersebut memiliki volume produksi tembakau sekitar 61 ribu ton. "Namun, guna meningkatkan produksi tembakau masih sangat sulit," katanya. Penyebabnya, lanjut dia, spesifikasi varietas tembakau yang daunnya lebih kecil dari jenis lain membuat panen tak bisa ditingkatkan kecuali dengan upaya perluasan area pertanian tembakau.(*)

Pewarta:

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2014