Surabaya, (Antara Jatim) - Ternak sapi, kambing dan sejenisnya atau oleh masyarakat pedesaan sering dinamai "raja kaya", memiliki makna penting bagi masyarakat pengungsi Gunung Kelud, terbukti kuatnya keinginan mereka untuk bisa segera pulang ke rumah dan menengok ternaknya. Kuatnya keinginan pengungsi untuk pulang, meski status Gunung Kelud masih Awas dan rumah mereka berada di daerah rawan letusan, terjadi hampir di sejumlah titik pengungsian, baik pengungsian di sisi Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang maupun Kabupaten Blitar. Contoh, sebagian pengungsi di Kantor Desa Ngoro, Gedung SMPN 1 Ngoro, dan Gedung Pramuka Kecamatan Ngoro yang disiapkan BPBD Kabupaten Jombang, memaksa pulang ke rumah masing-masing di Kecamatan Kepung Kediri, Kecamatan Kasembon dan Ngantang Kabupaten Malang meskipun daerah-daerah tersebut merupakan daerah terdampak erupsi Gunung Kelud. Pengungsi yang berasal dari beberapa desa di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, juga melakukan hal yang sama. Mereka memaksa pulang ke rumah untuk membersihkan rumah dan memberi makan ternaknya. Pengungsi itu dari Desa Sumberasri, Desa Modangan, Desa Penataran, Desa Kedawung. Jarak desa mereka dengan puncak Gunung Kelud hanya berkisar 5-10 kilometer. Bahkan, aparat terpaksa juga harus menyisir Desa Sugihwaras di Kabupaten Kediri karena diduga masih ada warga yang nekat pulang ke rumah meski Gunung Kelud masih dalam status Awas. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi kali ini ketika Gunung Kelud memuntahkan material vulkaniknya, tetapi juga bisa dijumpai ketika letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Semeru di Jawa Timur beberapa waktu silam. Pengungsi merasa tidak tenang di pengungsian karena meninggalkan rumah berserta isinya, dan yang lebih khususnya lagi meninggalkan ternak yang butuh makan, butuh minum dan butuh perawatan. Ternak juga merupakan makhluk bernyawa. Selain itu, sesuai namanya "raja kaya", ternak bagi empunya merupakan simbol sosial ekonomi, karena nilai jual ternak tersebut relatif tinggi. Artinya, jika ternak tersebut dijual maka pemiliknya tidak miskin secara ekonomi, atau setidaknya ada uang yang bisa dibelanjakan. Ternak, bagi masyarakat pedesaan, utamanya di lereng gunung, merupakan satu kekayaan, selain perhiasan emas yang jamak dimiliki. Ternak yang dimiliki terkadang tidak hanya seekor, tapi lebih dari itu. Sementara lereng gunung biasanya merupakan daerah subur untuk bercocok tanam, termasuk bertanam tanaman pakan ternak. Material vulkanik diyakini mengandung zat yang bisa menyuburkan tanah. Karena itu, cukup beralasan jika masyarakat di lereng gunung, hampir semuanya hidup dari bertani dan beternak. Untuk daerah tertentu seperti di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, beternak sapi merupakan bagian dari kegiatan usaha warganya. Sapi yang dibudidayakan merupakan sapi perah untuk diambil susunya, bukan sapi potong. Antisipatif Aparat terkait tampaknya telah melakukan langkah antisipatif. Selain lokasi pengungsian untuk masyarakat, juga disiapkan pengungsian untuk ternak warga seperti sapi dan kambing. Komandan Kodim 0809 Kediri, Letkol Heriyadi, mengatakan, Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Gunung Kelud juga mengurusi ternak. Petugas telah menyusun skema penanganannya jauh sebelum Gunung Kelud dinyatakan dalam status Awas. Berdasarkan inventarisasi, ada sekitar 8.000 hewan ternak yang siap diungsikan. Sebelum diungsikan ternak-ternak tersebut diberikan tanda oleh pemiliknya guna memudahkan untuk dikenali. Proses pengungsiannya, kata dia, ada dua cara, yaitu menggunakan kendaraan yang menjemput dari lokasi ke titik pengungsian, juga dengan cara penggiringan. Untuk menanganinya, Satlak PB sudah menyiapkan personel, sedangkan penanganan pakan di pengungsian diserahkan satuan kerja terkait, Dinas Peternakan. Pakan bisa berupa rumput dan konsentrat. Serupa dengan yang dilakukan Satlak PB Kabupaten Kediri, Pemkab Malang juga telah melakukan langkah antisipatif dengan penyiapan lokasi evakuasi untuk ternak serta kebutuhan pakannya. "Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa instansi terkait dan manajemen PT Netsle untuk segera mendistribusikan pakan hijau ternak. Dan, juga kami buka posko khusus untuk ternak yang ada di Ngantang," kata Bupati Malang Rendra Kresna saat mengunjungi lokasi pengungsian di Kantor Kecamatan Pujon, Sabtu. Untuk sementara, menurut dia, memang dibuka posko di Ngantang dulu. Sebab, untuk Kecamatan Pujon masih bisa dijangkau dan kondisinya tidak darurat, bahkan rumput untuk pakan ternak juga masih banyak yang tidak terdampak erupsi. Meskipun di Kecamatan Pujon populasi ternak sapi lebih banyak, dinilai tidak mendesak seperti di Kecamatan Ngantang yang sudah seperti kota mati. Oleh karena itu, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, dokter hewan dan beberapa elemen juga dilibatkan untuk mengurus ternak milik warga yang sedang mengungsi. Warga Kecamatan Ngantang hampir 90 persennya sebagai peternak sapi perah. Mereka tidak diperbolehkan pulang jika Gunung Kelud belum benar-benar aman. Ternak milik warga dijaga dan dirawat oleh para relawan. Erupsi Gunung Kelud kini memang cenderung turun, namun masih dalam status Awas. Masyarakat di kawasan yang rawan terdampak erupsi, diminta tetap tenang di pengungsian. Apalagi aparat bersama pihak terkait telah memberi dukungan pengamanan serta pemeliharaan ternak mereka. (*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2014