Total ada delapan orang perempuan dan laki-laki mengenakan jubah putih yang biasa digunakan dokter atau pekerja laboratorium di ruangan itu.Mata mereka fokus pada benda di hadapannya, tangan-tangan pun terampil mengambil satu per satu pecahan keramik lalu menyatukannya ke bentuk tertentu.

Bukan hanya tangan manusia yang terampil di ruangan itu, ada juga tangan robot yang bekerja tak henti memindai ratusan spesimen bagian keramik berbagai bentuk.

Situasi itu terjadi di Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen, suatu lembaga penelitian berlokasi di pusat Kota Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, China bagian Tenggara.

Lembaga tersebut bertanggung jawab atas perlindungan dan pameran warisan budaya di Taman Situs Arkeologi Nasional Tungku Kekaisaran Jingdezhen serta pekerjaan arkeologi dan penelitian terkait di seluruh Jingdezhen.

Jingdezhen sendiri sudah dikenal sebagai kota industri porselen kekaisaran Tiongkok sejak abad ke-10 hingga abad ke-19.

Sebanyak 80 ribu unit keramik per tahun yang terdiri dari berbagai jenis piring besar, piring kecil, mangkuk, cawan, tempayan, guci dikemas dan dikirim ke ibu kota kerajaan dalam berbagai era dinasti.

Keramik-keramik itu berfungsi mulai dari hiasan di berbagai ruangan istana, keperluan ritual kerajaan hingga hadiah perkenalan bagi mitra kerajaan lain, sehingga tidak heran keramik dari Jingdezhen dapat tersebar hingga Asia Timur, Asia Tenggara, kawasan Samudra Hindia, Semenanjung Arab, Afrika hingga dan Eropa.

Pengecekan kualitas barang yang dapat dikirim ke kaisar sangat ketat, sehingga barang yang tidak lolos seleksi pun dibuang dan dipendam di berbagai lokasi dekat tungku pembakaran saat itu.

Direktur Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen, Weng Yanjun memperlihatkan keramik yang menjadi "harta karun" di museumnya, yaitu sepasang bebek berwarna dominan kuning dengan garis hitam di beberapa bagian badannya.

"Keramik ini dibuat pada masa Dinasti Ming sekitar 550 tahun lalu. Kami menyebutnya tempat pembakaran dupa berbentuk bebek dengan hiasan sancai polos. Disebut polos karena tidak menggunakan warna merah," ucap Weng.

Keramik sepasang bebek berwarna kuning koleksi Museum Situs Tungku Kekaisaran Jingdezhen. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Sancai sendiri artinya adalah "tiga warna", yaitu jenis keramik China kuno yang terdiri dari tiga warna dominan kuning, hijau, dan putih, meski dalam praktiknya sering juga ada penggunaan warna cokelat, biru atau hitam.

"Warna yang terlihat seperti hitam itu sebenarnya biru. Selain itu, terdapat warna kuning dan ungu. Jadi, benda ini menggunakan tiga warna. Perhatikan bulu-bulu bebek, ukiran pada bulunya dibuat dengan sangat terperinci, begitu pula mata, lidah dan paruh berbentuk seperti bunga, lidahnya, dan paruhnya. Baik pewarnaan maupun ukirannya dikerjakan secara sangat rumit," ujar Weng.

Weng menegaskan benda-benda yang dipamerkan itu tidak pernah berhasil dikirim ke istana, baik ke Beijing maupun Nanjing, sebagai ibu kota kekaisaran karena tidak memenuhi standar kaisar.

Masalahnya, bagaimana masyarakat umum tahu mengenai sejarah, fungsi hingga jenis motif keramik yang dibuat ratusan tahun lalu bila bukan pakar keramik?

DNA keramik

Pada 11 Juni 2022, pemerintah China mendirikan "Bank Gen Keramik Kuno" pertama di China, berlokasi di Jingdezhen.

Weng menyebut para peneliti di tempat tersebut menggunakan analisis sinar-X untuk memeriksa unsur keramik dan spektroskopi Raman untuk memeriksa komposisi kimia keramik.

Hasil pengujian itu, ungkap Weng, hanya memberikan angka persentase dan kurva tapi tidak langsung memberi tahu apakah sebuah benda atau pecahan benda berasal dari zaman kuno atau dibuat pada masa kini, ataupun apakah benda tersebut menggunakan glasir biru atau glasir putih.

Untuk memperoleh kesimpulan seperti itu, Weng mengatakan ia membutuhkan kumpulan data pembanding yang telah distandardisasi karena ketika menguji spesimen lain, hasilnya dapat dibandingkan dengan kumpulan data tersebut untuk menentukan apakah karakteristiknya cocok atau tidak.

"Namun, tujuan bank gen ini tidak berhenti pada identifikasi benda. Kami juga ingin menggunakan data tersebut untuk mempelajari masyarakat kuno serta pertukaran budaya dan peradaban pada masa lampau," tambah Weng.

Data itu, ungkap Weng, juga dapat diterapkan dalam kehidupan modern untuk mengembangkan produk dan desain baru, serta menyusun cerita yang didasarkan pada fakta.

Di lembaga tersebut, sudah menggunakan sistem CIELAB (L*a*b*) dapat menggambarkan warna secara numerik melalui tiga koordinat, yaitu kecerahan, sumbu hijau-merah, dan sumbu biru-kuning.

"Saat ini, kami menggunakan AI untuk membantu menganalisis ornamen, seperti gambar dua naga. AI dapat secara otomatis mengambil informasi mengenai kepala, badan, ekor, sisik, kumis, dan mata naga," ujar Weng.

Weng mengaku model AI yang digunakan sekarang masih model sederhana tapi pada masa mendatang dapat digunakan berbagai cara lain. AI juga digunakan untuk membuat pola baru hasil perpaduan pola-pola yang sudah ada dalam data bank gen, sehingga menciptakan plla baru yang tidak terbatas.

"Kumpulan data tersebut tentu dapat membantu proses identifikasi. Namun, yang lebih penting, unsur-unsur itu dapat digunakan kembali dalam desain modern," ucap Weng.

Bahkan, pengunjung pun dapat membuat motif baru dengan berdasarkan motif yang sudah tersedia dan mendesain ulang sesuai seleranya. Mesin cetak di lokasi itu langsung dapat mencetak desain di atas kaus untuk dibawa pulang pengunjung sebagai oleh-oleh.

Weng menyebut sejak 2026 ini, timnya mulai menggunakan pengambilan sampel tiga dimensi.

Bila dulu peneliti hanya mengambil sampel dari beberapa ratus pecahan porselen, mulai saat ini mereka secara khusus memilih sampel dalam jumlah sangat besar, misalnya mencapai sekitar 16.400 pecahan.

Hal itu diterapkan dalam pemindaian pecahan guci naga yang ukuran gucinya besar dan satu pecahan porselen bahkan dapat memiliki lebih dari 30.000 titik pemindaian.

Setelah dipindai, pecahan keramik diberikan nomor yang  menunjukkan lapisan arkeologis tempat pecahan itu ditemukan dan nomor baru khusus untuk pemindaian tiga dimensi.

Selanjutnya, peneliti mengidentifikasi spesimen-spesimen tersebut.

"Saat ini, tingkat akurasi identifikasinya dapat mencapai lebih dari 90 persen karena dibantu AI untuk memperkirakan bagian mana yang merupakan permukaan patahan dan bagian mana yang masih memiliki permukaan asli," kata dia.

Langkah berikutnya adalah mencocokkan dan menyambungkan pecahan-pecahan tersebut dengan bantuan algoritma AI.

Rancangan awal menggunakan metode pencocokan satu per satu, tapi setelah menemukan hubungan antara pecahan A dan pecahan B, peneliti tetap harus menentukan rentang pecahan lain yang mungkin berdekatan dengannya.

Sistem akan mencari 50 pecahan yang paling mungkin bersebelahan dengan pecahan tersebut. Persoalannya karena jumlah dasar sampelnya sangat besar yaitu ribuan pecahan, maka dengan menggunakan algoritma biasa memerlukan waktu sekitar 27 tahun untuk menyelesaikannya.

Peneliti pun mencari cara lain, yaitu dengan membagi 16.000 pecahan keramik menjadi kelompok-kelompok kecil, lalu penghitungan dan pencocokan dilanjutkan di dalam kelompok-kelompok tersebut.

"AI memiliki kemampuan menjalankan algoritma, tetapi tidak memiliki kemampuan penilaian seperti manusia. Karena itu, kami membangun sebuah platform baru yang menggabungkan keahlian para ahli restorasi berpengalaman dengan algoritma AI untuk menentukan mana hasil pencocokan yang benar dan mana yang tidak," kata dia.

Tim peneliti saat ini sudah berhasil mencocokkan dan merekonstruksi satu guci naga.

Direktur Departemen Sains dan Teknologi Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen Xionzhe mengatakan basis data genetik keramik di tempat tersebut baru terdigitalisasi pada 2022.

"Sebelumnya seluruh datanya masih dicatat dalam bentuk dokumen kertas," kata Xiongzhe.

Tempat penelitian itu punya lebih dari 20 juta pecahan porselen yang berasal dari periode Dinasti Tang hingga zaman modern dan dari benda-benda tersebut, peneliti memilih sejumlah pecahan yang representatif, antara lain produk tungku kekaisaran Dinasti Ming dan Qing serta produk tungku rakyat dari Dinasti Tang hingga zaman modern.

"Saat ini, kami telah mengumpulkan lebih dari 3.000 kelompok sampel," ucap Xiongzhe.

Kehadiran "Jingpiao"

Keramik Jingdezhen tidak hanya berhenti di sisi penelitian akademis, melainkan terus mengalir lewat darah muda perajin keramik setempat maupun pendatang yang mendorong kehadiran kelompok "jingpiao".

"Jingpiao" secara literal berasal dari kata jǐng, yaitu singkatan dari Jingdezhen dan piāo yang secara harfiah berarti "mengembara", sehingga "jingpiao" merujuk pada kelompok pendatang generasi muda yang pindah ke Jingdezhen sebagai ibu kota porselen Tiongkok demi mengejar karir di bidang keramik alias "perantau kreatif di Jingdezhen".

Dari total populasi perkotaan Jingdezhen sekitar 900 ribu orang, sekitar 60 ribu di antaranya adalah "Jingpiao". Angka ini terus tumbuh karena Jingdezhen punya ekosistem industri keramik yang lengkap, menjadi magnet bagi para seniman keramik ditambah biaya hidup yang rendah, baik untuk biaya sewa studi, bahan baku maupun kebutuhan sehari-hari.

Salah satu epsientrum industri keramik bagi "jingpiao" tersebut adalah "Kawasan Seni Keramik Taoxichuan".

Kawasan ini terletak di distrik Zhushan dan dikembangkan dari bekas Pabrik Porselen Yuzhou milik negara. Kawasan tersebut mempertahankan bentuk industri berupa bangunan pabrik beratap gigi gergaji, cerobong, dan tungku lama, lalu memadukannya dengan budaya dan kreativitas modern.

Wakil Direktur Pusat Operasi Komunitas Taoxichuan dan Kepala Umum Pusat Seni Taoxichuan Wu Zhenxi Goh Zhenxi sendiri termasuk "jingpiao" karena ia berasal dari Malaysia.

"Di Jingdezhen, kami terus membangun sebuah wadah pertukaran budaya yang cukup penting. Wadah pertukaran tersebut bernama 'Program Burung Migran' (Migratory Bird Project)," kata Goh, saat ditemui di Jingdezhen.

Penyelenggara membangun pusat residensi seniman di Taoxichuan sehingga para seniman keramik dari luar Jingdezhen, termasuk luar China dapat tinggal selama 3-6 bulan di sana, berkarya dan juga saling belajar.

Mereka juga menyelenggarakan kegiatan "Pasar Raya Musim Semi dan Musim Gugur" sebagai ajang pameran tahunan serta berbagai pameran seni, ceramah, forum, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan keramik.

"Selama 10 tahun terakhir, melalui program residensi, kami telah mendatangkan hampir 10.000 seniman untuk mengikuti program residensi di Taoxichuan, pernah ada juga 3 orang perajin keramik dari Indonesia yang ikut residensi di sini tapi saat ini mereka sudah kembali ke Indonesia," ucap Goh.

Karya-karya para seniman residensi itu dapat dilihat di berbagai lokasi pameran seni, baik di Taoxichuan maupun lokasi lain.

Berkat pertukaran selama hampir 10 tahun terakhir, orang dapat melihat bahwa Jingdezhen tidak lagi hanya menampilkan citra tradisional berupa porselen biru-putih tapi berbagai variasi bahan, gagasan, maupun teknik keramik yang semakin menginternasional dan berjiwa muda.

"Tentu saja, agar Jingdezhen dapat berdialog secara lebih luas dengan dunia, kami berharap yang datang ke sini bukan hanya seniman untuk mengikuti program residensi. Kami juga membutuhkan lebih banyak lembaga seni, lembaga akademik, seniman individual, bahkan perusahaan dari berbagai negara untuk mengenal kembali Jingdezhen," kata Goh.

Seniman Jepang yang saat itu sedang menjadi residen di Taoxichuan adalah Mayu Ueda, asal Kobe. Perempuan yang meraih gelar Master of Fine Arts (MFA) bidang seni keramik dari Universitas Seni Osaka pada 2000 selama lebih dari satu dekade mengajar seni dan keramik.

Ia juga memiliki Mayu Studio di Kobe, sebuah studio keramik dengan area luar ruang yang luas untuk pembakaran keramik menggunakan teknik lubang tanah dan teknik raku.

Karyanya di Taoxichuan mengambil tema "A Lump of Feelings" (Segumpal Perasaan) yang terinspirasi dari pengalamannya menghadapi gempa besar di Hanshin-Awaji, kota kelahirannya pada 1995.

"Saya membuat 7 karya selama 3 bulan melakukan residensi di sini, 3 karya harus diberikan ke sini, sedangkan sisanya bisa dipamerkan di mana saja," kata Mayu yang mengatakan ia senang berada di Taoxichuan karena punya ekosistem yang lengkap dalam membuat keramik.

Di Taoxichuan, memang tersedia juga bengkel kayu, bengkel kaca, gedung tekstil, studio seni serat, perpustakaan kerajinan tangan dunia, serta museum seni kerajinan tangan dunia yang melengkapi berbagai infrastruktur keramik yang telah ada sebelumnya.

"Saya yakin masyarakat masih dapat membangun hubungan dengan keramik. Pada masa kuno, keramik merupakan bagian dari sejarah dan ingatan bersama umat manusia, sedangkan saat ini kita masih dapat membangun dan membagikan kebudayaan tersebut bersama-sama, baik dalam bentuk keramik, kain, puisi, games, animasi dan lainnya. Menurut saya, itu merupakan sesuatu yang luar biasa," ucap Weng Yanjun.

Pada 25 Juli 2026 UNESCO  telah memasukkan "Warisan Industri Porselen Kerajinan Tangan Jingdezhen" ke dalam "Daftar Warisan Dunia" menandai perannya sebagai budaya yang terus dinikmati dan diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Pewarta: Desca Lidya Natalia

Editor : Abdullah Rifai


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026