Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta China dan Taiwan "menenangkan diri" masing-masing di tengah ketegangan antara keduanya, sembari memilih untuk tidak memberi kepastian terlebih dahulu tentang rencana AS mengirimkan senjata ke Taipei.
"Saya tidak ingin ada satu pihak saja yang merdeka, lantas kami harus bepergian jauh untuk berperang. Saya mau Taiwan menenangkan diri, begitu pula China," kata Trump dalam wawancara bersama Fox News yang disiarkan Jumat.
Soal kelanjutan pengiriman senjata senilai miliaran dolar AS, Trump mengatakan rencana itu masih belum disetujui.
"Kita lihat apa yang akan terjadi nanti," tambahnya.
Dalam wawancara itu, Trump juga ditanya apakah Taiwan harus merasa "lebih aman atau kurang aman" setelah dirinya bertemu Presiden China Xi Jinping. Trump pun menyatakan bahwa Taiwan harus bersikap "netral".
"Kami berdiskusi semalaman soal isu itu," kata Trump.
Dia menyoroti isu Taiwan sebagai topik pembahasan utama dalam pertemuannya dengan Xi Jinping, yang menurut Xi itu menjadi hal paling penting.
"Saya pikir mereka tidak akan melakukan apa pun saat saya ada. Tetapi, saat saya sudah tidak ada, mungkin mereka akan melakukannya," kata Trump.
Dia juga mengungkapkan keinginannya agar perusahaan chip Taiwan pindah ke AS.
"Kami sudah menerima banyak sekali perusahaan chip dari Taiwan datang kemari," kata Trump.
Dia pun menambahkan AS mengharapkan 40 hingga 50 persen industri chip dunia sudah berada di AS pada akhir masa jabatannya.
Menurutnya, Taiwan berkembang karena presiden-presiden AS sebelumnya tidak tahu apa yang mereka lakukan, sambil mengisyaratkan dukungan untuk mengenakan tarif impor chip dari Taipei.
"Semuanya adalah tentang perusahaan chip kami. Mereka mencuri industri chip kami," kata Trump.
Pernyataan Trump itu disampaikan di tengah ketegangan antara China dan Taiwan.
Sebelumnya, Presiden Xi mengatakan perdamaian di Selat Taiwan tidak akan bisa bersatu, seperti air dan api, dengan kemerdekaan Taiwan.
"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan adalah kesamaan terbesar antara kami," kata Xi.
Sementara itu, sebagai pemasok senjata terbesar untuk Taiwan, Amerika baru menyetujui penjualan senjata sebesar 11 miliar dolar AS (sekitar Rp193 triliun) pada tahun 2025, sehingga memicu protes dari Beijing.
China memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taipei menganggap dirinya sudah merdeka sejak 1949.
Sumber: Anadolu
Editor : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026