Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Jawa Timur dinilainya telah masuk dalam fase kedaulatan pangan berkelanjutan.

“Yang ingin kami sampaikan, ketika pemerintah pusat membangun ketahanan pangan, maka Insya Allah Jawa Timur ini sudah masuk pada kedaulatan pangan berkelanjutan,” kata Khofifah dalam peresmian Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa 2026 di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu.

Menurutnya, pemilihan Jawa Timur sebagai pusat peluncuran GPIPS Wilayah Jawa didasarkan pada capaian ekonomi daerah yang terus menunjukkan tren positif, dimana pada triwulan pertama 2026 ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan atau year on year (YoY), tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui rata-rata nasional.

Khofifah menambahkan, Jawa Timur juga menjadi kontributor ekonomi terbesar kedua nasional dengan kontribusi 14,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan 25,16 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa, dengan angka inflasi tahunan pada April 2026 tercatat sebesar 2,85 persen dan inflasi bulanan sebesar 0,02 persen.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, lanjut Khofifah, terus memperkuat pengendalian inflasi melalui program Etalase Pengendali Inflasi Kabupaten/Kota (EPIK) Mobile yang diharapkan mampu memperkuat kerja sama antar daerah dalam memitigasi inflasi secara responsif dan menjaga distribusi pangan lebih merata.

Khofifah juga menekankan pentingnya pembangunan pangan sejahtera yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan kalori, tetapi juga protein hewani, termasuk melalui penguatan populasi sapi potong dan sapi perah yang didukung Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari di Kabupaten Malang.

Di sektor pertanian, Pemprov Jatim mendorong penggunaan alat mesin pertanian modern seperti combine harvester untuk menekan kehilangan hasil panen padi hingga 11 persen sehingga mampu meningkatkan produksi gabah tanpa perlu perluasan lahan pertanian.

"Sehingga kalau misalnya kehilangan hasil panen dapat ditekan ke angka sepuluh persen, kalau kita bisa memproduksi 34 juta ton Gabah Kering Panen (GKP), maka kita bisa menambah 3,4 juta ton tanpa harus melakukan ekstensifikasi atau intensifikasi lahan," kata Khofifah.

Pewarta: Fahmi Alfian

Editor : Astrid Faidlatul Habibah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026