Dataran tinggi Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, menjadi salah satu pilihan wisata masyarakat Jambi dan sekitarnya dalam menikmati masa libur Lebaran.
Seolah memanggil, wilayah yang populer disebut "Sekepal tanah dari surga yang tercampak ke bumi" itu mampu menarik gelombang kunjungan wisatawan.
Menikmati pesona alam hamparan kebun teh dan anggunnya Gunung Kerinci sebagai gunung api aktif tertinggi di Indonesia (3085 Mdpl).
Sore itu, awan gelap diiringi rinai hujan mengguyur wilayah Kecamatan Kayu Aro, Gunung Tujuh, dan Kayu Aro Barat.
Meskipun cuaca tidak bersahabat, lautan manusia menyemut menikmati pemandangan kebun teh. Mereka bercengkerama, berfoto ria bersama pasangan, atau hanya sekadar menikmati sajian hamparan hijau kebun teh yang telah ada sejak 100 tahun lalu (1925).
Amir Hamzah, warga Kuantan Sengingi (Riau), saat ditemui di sela-sela menikmati suasana sore di Kersik Tuo mengakui keindahan alam yang tersaji di dataran tinggi Kerinci.
Kendati kunjungannya bukan yang pertama kali, baginya, suasana alam Kerinci tidak pernah mengecewakan.
"Sudah berulang datang ke Kayu Aro, kali ini membawa rombongan keluarga dari Solok Selatan. Kebetulan berlebaran ke rumah keluarga, mumpung di sini, kami sempatkan mampir menikmati suasana kebun teh. Kebetulan sebagian keluarga yang saya bawa ada yang belum pernah ke Kerinci," ucapnya di depan Kantor Afdeling D, Kersik Tuo.
Menurut Amir, kawasan Kayu Aro memiliki ekosistem yang baik, masyarakat yang tinggal di wilayah itu tergolong ramah, harga makanan yang dijual cukup terjangkau, ditambah lagi akomodasi penginapan yang tersedia tergolong representatif.
Ia menganggap, keunggulan itu merupakan nilai jual yang harus terus dipertahankan dan dikembangkan oleh pegiat pariwisata yang berkecimpung di Kabupaten Kerinci, termasuk Kota Sungai Penuh.
"Hal yang penting itu bagaimana masyarakat memperlakukan wisatawan dengan baik, itu kunci utama supaya pengunjung betah berlama-lama di suatu tempat wisata," katanya.
Wisatawan lainnya, Imuluddin terlihat menikmati, saat beberapa kali berusaha ganti posisi berdiri, ketika memotret dirinya di antara tanam teh di Afdeling D, milik penguasaan PTPN IV unit usaha Kayu Aro.
Bagi warga Pasaman ini, saat pertama datang, dirinya langsung merasa nyaman dan tenang berada di hamparan kebun teh seluas 2.126,48 hektare yang menjadikannya kebun terluas di Indonesia dalam satu hamparan.
Menurutnya, hawa sejuk khas dataran tinggi memikat untuk berlama-lama menghabiskan waktu bersama menikmati pemandangan alam Kerinci.
Dia asli dari Pasaman dan berlebaran di Padang Aro, Solok Selatan. Kebetulan jaraknya tidak jauh, kemudian bersama keluarga sepakat ke Kerinci.
Dia merasa tidak rugi, meski perjalanan melambat akibat macet di beberapa titik. Suasananya terasa bagus, meskipun gunungnya tidak terlihat karena tertutup awan gelap.
Imuluddin tiba, saat Matahari sudah tinggi. Rencananya, setelah menikmati waktu singkat di lokasi itu, ia bersama keluarganya akan kembali ke Solok Selatan.
Sembari mengarah jalan pulang, ia berencana singgah melihat panorama air terjun Telun Berasap yang dikenal dengan debit air yang deras serta mampu menciptakan kabut uap, bahkan sesekali membentuk pelangi dari hasil dorongan air yang terbawa angin.
"Tadi kami melewati lokasi air terjun, tapi diniatkan ke sini dulu, saat pulang nanti baru kami usahakan mampir, jaraknya juga tidak jauh," kata dia.
Berkah pedagang dadakan
Di tengah laju mobil yang tersendat karena macet yang mengular akibat tingginya jumlah kendaraan yang lewat, seorang pria paruh baya tiba-tiba turun memesan makanan dua porsi tahu kremes kepada Rahmat Susanto, seorang penjaja makanan yang berjualan di pinggir jalan lintas, dekat pasar Sabtu Kersik Tuo, Kayu Aro, Kerinci.
Rahmat Susanto, bukan satu-satunya penjual makanan yang memanfaatkan momen Lebaran tahun ini.
Ada puluhan, bahkan ditaksir mencapai seratusan pedagang makanan dan mainan serta pernak pernik lain yang mencoba mengadu peruntungan.
"Jika dihitung dari dekat pabrik teh, sampai ke objek danau buatan Aroma Pecco, Kersik Tuo, hingga ke air terjun, ada kalau ratusan," kata dia.
Dia mengungkapkan, sebelum pihak perusahaan perkebunan teh melarang pedagang berjualan di area hak guna usaha Teh kayu Aro, kondisi lapak dagangan terlihat tidak teratur, merusak pemandangan dan kotor.
Kini, pedagang dadakan mulai tertib, hanya boleh berjualan di tanah masyarakat dengan sistem sewa, dengan demikian perputaran ekonomi berjalan dengan baik.
Pedagang dan pemilik lahan sama-sama menerima manfaat ekonomi dampak kunjungan wisatawan.
"Tahun ini sudah tertib, tidak boleh berjualan di sembarang tempat, pedagang banyak yang menyewa halaman toko dan rumah masyarakat," ujarnya.
Setiap musim Lebaran tiba, Rahmat mengaku mendapat berkah tersendiri, pendapatannya meningkat dua kali lipat dari hari normal.
"Pasti habis, apalagi lalu lalang kendaraan ramai, cuaca dingin, semua makanan yang dijual cepat habis, karena wisatawan butuh makan ya," tambah Rahmat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci Jamal Penta Putra menerangkan bahwasanya keberadaan objek wisata berdampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
Dari situ, masyarakat bisa menjual produk makanan khas daerah, suvenir, hingga jasa penginapan.
Sejauh ini pemerintah daerah terus memberikan dukungan kepada pelaku UMKM dan kelompok sadar wisata, agar ekosistem pariwisata di Kerinci berjalan dengan baik, sehingga bermuara terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat dan pembangunan daerah.
Menurut dia, tahun ini Kabupaten Kerinci menargetkan pendapatan asli daerah sebesar Rp1 miliar dari sektor pariwisata yang dikelola oleh pemerintah.
Target itu, meliputi objek daya tarik wisata (ODTW), air terjun Telun Berasap, taman danau buatan Aroma Pecco, Air Panas Semurup, dan Danau Kerinci.
Pemerintah mengakui, persaingan dengan objek wisata yang dikelola swasta mempengaruhi pendapatan, karena wisatawan memiliki banyak pilihan.
Keberadaan objek wisata otomatis linear dengan peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi wisata. Tahun ini pemerintah kabupaten menargetkan pendapatan asli daerah Rp1 miliar. Musim Lebaran tahun ini Dinas Pariwisata menargetkan 100 kunjungan di ODTW Kerinci.
Dukungan akses transportasi
Berdasarkan letak wilayah, kabupaten dan Kota Sungai Penuh berada di bagian barat Provinsi Jambi. Dari Kota Jambi membutuhkan waktu tempuh sekitar 10 jam (424 Km) melalui perjalanan darat.
Selain bisa ditempuh menggunakan jalur darat, saat ini masyarakat bisa mengunjungi Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, dengan menggunakan jasa transportasi udara.
Satu maskapai pesawat perintis, Susi Air telah membuka rute penerbangan dari Bandara Sultan Thaha Jambi menuju Bandara Depati Parbo Kerinci.
Beberapa waktu lalu (7/3), Gubernur Jambi Al Haris meninjau pembangunan terminal baru Bandara Depati Parbo.
Dalam kunjungan itu, Al Haris melihat secara langsung kondisi terminal baru bandara yang dinilai sudah cukup baik dan siap mendukung peningkatan layanan transportasi udara di wilayah Kerinci dan sekitarnya.
Menurut Al Haris, fasilitas terminal baru Bandara Depati Parbo sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Selain bangunan terminal yang lebih representatif, area parkir kendaraan juga dinilai telah tertata dengan baik.
Gubernur mengatakan fokus pengembangan berikutnya adalah perpanjangan landasan pacu Bandara Depati Parbo. Dengan landasan yang lebih panjang, bandara tersebut diharapkan dapat melayani pesawat berbadan lebih besar.
Beberapa maskapai yang berpotensi mendarat di bandara tersebut, antara lain Batik Air maupun Citilink.
Jika rencana ini terealisasi, maka akses penerbangan menuju Kerinci diperkirakan akan semakin terbuka dari berbagai daerah di Indonesia.
Keberadaan bandara dengan kapasitas lebih besar akan memberikan dampak positif bagi mobilitas masyarakat.
Selain itu, pengembangan bandara juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah Kerinci dan sekitarnya.
Pemprov Jambi menilai Kabupaten Kerinci memiliki potensi besar, khususnya di sektor pariwisata.
Mengingat dua daerah itu dikenal memiliki berbagai objek wisata alam yang menarik, termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) serta berbagai objek wisata pegunungan dan danau.
Dengan dukungan akses transportasi udara yang lebih baik, ia optimistis jumlah wisatawan yang datang ke Kerinci akan terus meningkat.
Kerinci adalah branding pariwisata Jambi. Jika bandara ini sudah berkembang, dengan banyaknya tujuan wisata di Kerinci, maka wisatawan akan semakin banyak datang ke daerah itu.
Untuk mewujudkan rencana pengembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kerinci bersama bappeda, saat ini tengah menghitung kebutuhan anggaran.
Perhitungan tersebut, termasuk biaya yang diperlukan untuk pembebasan lahan sebagai bagian dari rencana perpanjangan runway bandara.
Setelah perhitungan selesai, hasilnya akan dibahas bersama Kementerian Perhubungan guna menentukan langkah lanjutan dalam pengembangan Bandara Depati Parbo.
Saat ini penerbangan masih terbatas dalam wilayah Provinsi Jambi, dari Bandara Sultan Thaha ke Kerinci. Padahal pemerintah daerah ingin menarik orang dari luar daerah untuk datang ke Kerinci, melihat potensi pertanian, wisata, dan sumber daya alam di daerah itu.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026