Tim pemantau hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang menyatakan tidak melihat penampakan hilal di wilayah Malang, Jawa Timur lantaran posisinya masih berada di bawah ufuk.
"Berdasarkan hasil perhitungan saat matahari terbenam hilal masih negatif. Hari ini kami memastikan dulu bahwa hilal masih di bawah ufuk," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Mamuri seusai pengamatan di Kantor Bupati Malang di Kabupaten Malang, Selasa
Berdasarkan data hasil rukyatul hilal atau pengamatan yang diterima dari BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, ketinggian hilal berada di bawah 1,162 derajat dengan sudut elongasi 1,63 derajat.
Umur bulan juga berada di bawah 2 jam 52 menit 54 detik dan fraksi iluminasinya 0,00 persen. Sedangkan, konjungsi yang muncul hari ini terjadi pada pukul 19.01 WIB.
"Untuk tinggi hilal di Indonesia itu mulai minus 2,41 di Jayapura dan minus 0,93 di Tuapejat, Sumatera Barat. Artinya, di seluruh Indonesia hilal masih di bawah ufuk, tidak terlihat sore ini," ujarnya.
Dia mengatakan bahwa data pengamatan hilal yang telah terkumpul ini selanjutnya dikirimkan ke Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta melalui Kantor Kementerian Agama setempat.
Data dari Malang akan dijadikan satu dengan hasil pengamatan hilal dari daerah lain di Indonesia.
Dengan hasil pengamatan ini, maka awal Ramadhan ditentukan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Jakarta untuk menentukan 1 Ramadhan 1447.
Mamuri menyampaikan timnya bersama Kementerian Agama Kabupaten Malang telah memutuskan tidak melanjutkan pemantauan hilal, mengingat waktu telah menjelang petang sehingga sudah tidak memungkinkan dilaksanakan tahapan.
"Pasca-Magrib dipastikan tidak terlihat karena posisi bulan bergeraknya ke bawah, karena itu tadi minus juga," ujar dia.
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026