Surabaya - Regulasi pemerintah saat ini belum memberikan dukungan besar bagi produsen telepon seluler untuk memproduksi produknya di Indonesia sehingga mereka masih mengoptimalkan kegiatannya di luar negeri.
"Padahal, Indonesia berpotensi menjadi basis produksi telepon seluler dari berbagai perusahaan. Namun, sampai sekarang pabrik kami masih di China," kata "Sales Manager" PT Supertone-SPC Mobile, Jimmy Susanto, ditemui pada Media Gathering, di Surabaya, Kamis.
Selain itu, jelas dia, faktor penghambat dilakukannya proses produksi telepon seluler di Indonesia yakni besarnya biaya produksi yang harus ditanggung produsen.
"Khususnya biaya operasional di mana saat diterapkan di China bisa lebih terjangkau," ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai, perkembangan pasar telepon seluler di Indonesia sangat pesat mulai dari kalangan menengah bawah hingga atas. Bahkan, ketika telepon seluler berbasis android hanya diserap konsumen kalangan menengah atas maka kini pasar menengah bawah tidak mau kalah.
"Hal itu dipicu oleh kian tingginya kebutuhan masyarakat terhadap teknologi dan komunikasi pada masa kini," katanya.
Oleh karena itu, tambah dia, pada semester II/2012 pihaknya fokus membidik pasar android. Salah satu strategi bisnis membidik pasar tersebut yaitu memberikan harga terjangkau bagi masyarakat.
"Kami yakin sebelum akhir tahun ini dapat mengenalkan antara 20-30 tipe telepon seluler berbasis OS android mulai 'candy bar' hingga layar sentuh," katanya. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012