Surabaya - Bank Indonesia (BI) Surabaya mencatat kredit modal kerja di Jawa Timur mencapai senilai Rp3,18 triliun selama tahun 2011, karena besarnya permintaan pasar mendapatkan permodalan untuk pengembangan bisnis mereka. "Alokasi kredit modal kerja sebesar Rp3,18 triliun mendominasi kontribusi sekitar 65,57 persen dari total penyaluran kredit di Jatim," kata Deputi Pemimpin Kantor BI Bidang Perbankan Surabaya, Sarwanto, ketika ditanya terkait kinerja penyaluran kredit modal kerja, di Surabaya, Senin. Sisanya sebesar 31,5 persen atau setara dengan Rp1,53 triliun merupakan kredit untuk konsumsi. "Sementara, 2,89 persennya dikontribusi oleh kredit investasi dengan besaran penyaluran kreditnya mencapai Rp140 miliar," ujarnya. Dari alokasi kredit tersebut di Jatim, ia mengemukakan, secara umum kualitas kredit yang disalurkan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di provinsi ini semakin menunjukkan performa membaik. Salah satunya tampak dari tingkat kredit bermasalah "Non Performance Loan/NPL". "Pada kuartal IV tahun 2011, NPL BPR di Jatim turun menjadi 4,01 persen sedangkan pada periode sama tahun 2010 mampu di posisi 4,24 persen," katanya. Sementara itu, mengenai penyaluran kredit BPR di Jatim, Ketua Persatuan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Jatim, Hary Wuryanto, menambahkan, sampai akhir kuartal IV/2011 membukukan kredit senilai Rp4,85 triliun. "Kinerja alokasi kredit BPR di Jatim mengalami peningkatan 16,87 persen dibandingkan dengan periode serupa pada tahun 2010," katanya. Ia menilai, realisasi penyaluran kredit BPR dipengaruhi kian kondusifnya kondisi perekonomian di Jatim. Apalagi, krisis ekonomi global dan keuangan tidak terlalu berdampak bagi masyarakat Jatim. "Dengan kondisi perekonomian Jatim itu, animo mereka untuk mengembangkan usaha ikut meningkat dan memiliki imbas positif terhadap permintaan kredit ke BPR yang menyebar di Jatim," katanya. Ke depan, lanjut dia, penyaluran kredit BPR di Jatim diharapkan bisa mencatatkan pertumbuhan 20 persen dibandingkan pencapaian pada tahun 2011. Keoptimisan itu dikarenakan suku bunga pinjaman sejumlah anggotanya sudah mengalami penurunan menjadi 18 persen per Januari 2012. "Padahal, pada tahun 2011 suku bunga pinjaman masih di posisi 24 persen," katanya.

Pewarta:

Editor : Endang Sukarelawati


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012