Makassar (ANTARA) - Penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Jawa Timur tercatat tumbuh 8,41 persen year on year (YoY) dari Rp101,14 triliun pada September 2024, menjadi Rp109,64 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
"Penyaluran kredit atau pembiayaan dari perbankan per September 2025 mencapai Rp109,64 triliun, meningkat 0,76 persen dari bulan Agustus di tahun yang sama," kata Kepala Kantor OJK Malang Farid Faletehan dalam Journalist Class dan Penerbitan Siaran Pers OJK Malang di Makassar, Jumat.
Farid mengatakan penyaluran kredit dari bank umum konvensional mencapai Rp101,33 triliun atau tumbuh 8,64 persen secara YoY dan bank umum syariah sebesar Rp6,13 triliun atau tumbuh 4,18 persen.
Kemudian, lanjutnya, bank perekonomian rakyat (BPR) sebesar Rp1,94 triliun, tumbuh 8,55 persen, serta bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) mencapai Rp228,56 miliar, tumbuh 22,25 persen.
Menurut Farid, pertumbuhan kredit BPRS tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 22,25 persen. Sedangkan non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah mencapai 2,80 persen atau naik 0,38 persen secara YoY.
Ia mencatat, tingkat NPL gross terendah adalah Kota Probolinggo, yakni 1,46 persen, diikuti Kabupaten Probolinggo 1,92 persen, dan Kota Pasuruan 2,10 persen.
Lebih lanjut, Farid mengatakan penyaluran kredit perbankan untuk Kabupaten Malang sebesar Rp30,35 triliun, tumbuh 1,23 persen YoY, sementara Kota Malang tercatat Rp29,47 triliun, atau tumbuh 7,89 persen.
Kemudian, Kabupaten Pasuruan sebesar Rp17,62 triliun, tumbuh 2,86 persen, Kabupaten Probolinggo Rp13,18 triliun atau tumbuh 21,67 persen, Kota Probolinggo Rp10,71 triliun tumbuh 27,95 persen, dan Kota Batu Rp3,01 triliun atau tumbuh 6,28 persen.
Sementara penyaluran kredit tertinggi adalah di wilayah Kabupaten Malang, yakni mencapai Rp30,35 triliun atau 37,68 persen, diikuti Kota Malang Rp29,47 triliun atau 26,88 persen, dan Kabupaten Pasuruan Rp17,62 triliun atau 16,21 persen.
Menurut dia, tercatat per 30 September 2025, 41,65 persen kredit di wilayah kerja OJK Malang disalurkan untuk penggunaan modal kerja, yakni sebesar Rp45,66 triliun, dengan 33,6 persen atau sekitar Rp36,88 triliun kredit disalurkan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penyaluran kredit per sektor ekonomi untuk bank umum konvensional, kata Farid, yakni rumah tangga Rp28,93 triliun tumbuh 7,8 persen YoY dengan porsi 28,55 persen, bank umum syariah untuk rumah tangga Rp3,12 triliun, tumbuh 13,61 persen atau dengan porsi 50,89 persen.
Sedangkan BPR untuk perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil serta sepeda motor tercatat sebesar Rp485,43 miliar tumbuh 13,8 persen yoy dan BPRS untuk membuka lapangan usaha lainnya senilai Rp56,67 miliar, tumbuh 9,65 persen dengan porsi 24,79 persen.
Ia mengatakan sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi adalah pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin mencapai Rp3,32 triliun atau tumbuh 43,38 persen YoY.
Selain itu, sektor pendidikan sebesar Rp599 miliar atau tumbuh 31,05 persen, pertambangan dan penggalian Rp5,17 triliun, naik 30,65 persen.
Sektor ekonomi dengan tingkat NPL terendah adalah pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin sebesar 0,01 persen, pertambangan dan penggalian 0,08 persen, dan pendidikan 0,20 persen.
Untuk penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat juga tumbuh 4,48 persen YoY, dari Rp101,19 triliun pada September 2024 menjadi Rp105,72 triliun pada periode yang sama pada 2025 atau meningkat 0,87 persen dari bulan sebelumnya.
