Bangkalan - Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Madura, menggelar pertemuan dengan para tokoh ulama Sunni dan Syiah sebagai upaya antisipatif atas kerusuhan bernuansa SARA yang terjadi di Sampang, Kamis (29/12) kemarin.
"Kerusuhan antara Sunni dan Syiah seperti yang teradi di Sampang, kami harapkan tidak akan terjadi di Bangkalan ini," kata Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron, Jumat.
Dalam pertemuan bersama tokoh Sunni dan Syiah yang juga dihadiri Forum Pimpinan Daerah (Forpinda) serta pengurus MUI di pendopo Pemkab Bangkalan, Kamis (29/12) malam itu, bupati meminta agar semua pihak menahan diri, tidak membuat suasana yang bisa memancing emosi massa.
Ia juga meminta kepada kelompok Islam Syiah yang ada di wilayah itu, agar sebaiknya tidak mengajarkan paham berbeda kepada masyarakat sekitar. Sebab salah satu pemicu terjadinya konflik antara Sunni dan Syiah di Sampang, karena ada beberapa pemahaman keagamaan yang berbeda.
"Pak camat yang ada di Bangkalan ini juga harus memantau, jika ada kelompok Syiah yang menyebarkan pemahaman berbeda dengan pemahaman umum umat Islam disini secara 'door to door' agar sebaiknya segera melapor," terang Bupati Fuad Amin Imron.
Pertemuan tokoh ulama dari kalangan Islam Sunni dan Syiah di Kabupaten Bangkalan ini digelar sebagai langkah antisipasi pasca terjadi kasus pembakaran madrasah dan rumah milik aliran syiah di Dusun Nangkrenang, Desa Karang Gayam, Sampang, Kamis (29/12) kemarin.
Fuad menjelaskan, pihaknya meminta pada kelompok Islam Syiah di Bangkalan supaya tidak mengajarkan ajaran yang berbeda pada masyarakat, sehingga menimbulkan keresahan.
"Yang terpenting pimpinan Syiah disini bisa menahan diri. Informasinya ajaran yang diberikan pada warga yakni boleh meninggalkan sholat Jumat dan hukum 'mid?ah' (nikah hanya empat mata)," ungkapnya.
Menurut Fuad, dirinya tidak bisa melarang secara tegas kepada warganya untuk tidak menganut ajaran Syiah. Sebab, hal tersebut merupakan keyakinan dari masing-masing warga dan sangat sulit untuk diubah.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011