Malang - Pemerintah Kabupaten Malang, berencana memasang alat pemantau cuaca/iklim secara online atau "Automatic Weather Station" (AWS) di bagian selatan wilayah tersebut. Bupati Malang Rendra Kresna, Rabu mengatakan, alat ini berfungsi untuk memantau cuaca secara online, dan menampilkan hasil pantauan cuaca secara cepat. Sehingga, apabila curah hujan tinggi di suatu daerah bisa langsung disampaikan kepada bupati untuk mengantisipasinya. "Apabila terjadi cuaca ekstrim serta curah hujan yang tinggi, hasil analisanya akan dapat langsung disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah, selanjutnya ditentukan kebijakan penanganannya," katanya. Rendra mengatakan, biaya yang dikeluarkan untuk membeli alat itu mencapai Rp300 juta/unit, sementara jangkauanya, mampu memantau cuaca dan iklim sepanjang 20 kilometer. "Rencananya alat itu akan dipasang di Kecamatan Tirtoyudo," katanya. Sementara untuk mengantisipasi banjir akibat curah hujan tinggi, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang juga telah menyiagakan sedikitnya 400 relawan untuk mengantisipasinya. Kepala bidang penanganan bencana alam PMI Kabupaten Malang, Budi Utomo mengatakan, relawan itu disiagakan terkait semakin tingginya curah hujan di wilayah Kabupaten Malang selama sepekan terakhir. "Relawan itu adalah peserta yang terlatih dalam manajemen penangaan bencana alam, penilaian dini, dapur umum, pasang bongkar tenda pengungsian serta pertolongan pertama, dan mereka akan menjadi ujung tombak menangani bencana di wilayah Kabupaten Malang," katanya. Sebelumnya, Pemkab Malang juga telah menetapkan sebanyak 18 desa di enam kecamatan wilayah itu sebagai daerah yang rawan bencana tanah longsor dan banjir. Enam kecamatan itu adalah Tirtoyudo, Ampelgading, Bantur, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo dan Gedangan. Sedangkan daerah yang paling rawan banjir adalah Desa Sitiarjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Desa Purwodadi dan Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo. "Sebagian besar bencana banjir dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi di Malang diduga disebabkan meluasnya hutan kritis di Kabupaten Malang, yakni dari sekitar 127 ribu hektare hutan lindung, hanya tersisa seluas 47 ribu hektare. Sisanya rusak akibat pembalakan liar pada tahun 1998 silam, sehingga serapan air sangat kurang" katanya.(*)

Pewarta:

Editor : Endang Sukarelawati


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011