Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menemukan sedikitnya 17 ekor sapi mengalami sakit dan bergejala seperti terserang wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), yakni mulut berliur, nafsu makan menurun dan kuku sapi luka-luka.

Menurut Kepala DKPP Sumenep Arif Firmanto di Sumenep, Minggu, belasan ekor sapi sakit dan bergejala seperti terserang wabah PMK itu berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan hewan yang dilakukan oleh petugas lapangan.

"Itu tersebar pada tiga kecamatan," kata Arif.

Perinciannya di Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, sebanyak delapan ekor, lalu di Desa Bilapora Rebba, Kecamatan Lenteng sebanyak lima ekor dan di Desa Ketawang Karai, Kecamatan Ganding ditemukan sebanyak empat ekor sapi sakit bergejala seperti PMK.

Menurut Arif, saat ini, pihaknya terus melakukan pemantauan perkembangan sapi sakit bergejala seperti terserang wabah PMK itu.

"Tingkat kematian hewan ternak yang terserang wabah PMK memang rendah, akan tetapi kami meminta agar petugas lapangan terus melakukan pemantauan, dan memberikan obat," katanya.

Sebelumnya, petugas DKPP Sumenep juga menemukan sebanyak 28 ekor sapi sakit di Kecamatan Saronggi dan juga bergejala seperti PMK.

Sementara, terkait penanganan jenis penyakit ini, Pemkab Sumenep juga bekerja sama dengan pihak terkait baik Polres dan Kodim 0827 Sumenep.

Kedua institusi ini membantu memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang gejala klinis sapi terserang PMK, sehingga peternak bisa melakukan pencegahan dini dengan cara melaporkan langsung kepada petugas kesehatan hewan.

Jenis kegiatan lainnya dengan membentuk pos pengaduan, posko penanganan, pos pantau penyekatan lalu lintas ternak serta melakukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada peternak dan pemasangan spanduk di pasar ternak.

"Kami juga mengagendakan untuk mengadakan pertemuan dengan peternak atau pedagang ternak, sehingga mereka memiliki wawasan tentang jenis penyakit ini, dan cara mencegah penularan," kata Kepala DKPP Sumenep Arif Firmanto.

Pewarta: Abd Aziz

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2022