Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) bersama RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang memberangkatkan 23 tenaga kesehatan untuk membantu penyintas gempa Bumi magnitudo 6,2 di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Rektor UB Prof Dr Nuhfil Hanani secara resmi memberangkatkan 23 tenaga kesehatan yang tergabung dalam Tim Emergensi Medis itu. Pelepasan dilakukan secara dalam jaringan (daring) yang diikuti oleh jajaran wakil rektor, perwakilan Komandan Lanud Abd Saleh, dekan, Direktur RSUD dr. Saiful Anwar beserta jajaran, dan Direktur RSUB beserta jajaran, Jumat.

Baca juga: Ada 75 kasus COVID-19, Rektor UB Malang instruksikan enam langkah minimalisasi kampus

Baca juga: Peneliti Universitas Brawijaya Malang kembangkan aplikasi "DETAK" bagi penderita jantung

Keberangkatan tim gabungan Fakultas Kedokteran UB dan RSSA Malang itu difasilitasi Komandan Lanud Abdulrachman Saleh dengan pesawat TNI AU Hercules. Tim ini menyusul dua tim lainnya yang telah berangkat sebelumnya.

"Kami mengapresiasi kerja sama antara UB, RSUB, RSSA, dan Lanud Abdulrachman Saleh. Pesan kami, seluruh Tim EMT agar menjaga diri, apalagi pada masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini," katanya.

Ia menyampaikan terima kasihnya atas kerja sama berbagai pihak selama ini dan kepedulian melakukan kegiatan sosial, terutama kegiatan yang tidak terduga, seperti bencana gempa.

"Kami berharap tim EMT dapat mengikuti protokol kesehatan dengan baik, sehingga tim dapat bekerja menolong sesama dengan maksimal dan bisa kembali dengan sehat dan selamat," katanya.

Ketua tim, dr Satria Pandu Persada Isma, Sp.OT (K), menyampaikan agenda yang dilakukan pada hari pertama adalah koordinasi dengan RSUD Provinsi Sulawesi Barat, orientasi terhadap pasien, serta melanjutkan rencana yang sudah disusun oleh tim sebelumnya dari Universitas Hasanudin Makassar.

Dekan FK UB Dr dr Wisnu Barlianto mengemukakan UB memiliki tanggung jawab moral dalam menghadapi bencana dengan memberikan yang terbaik, sesuai kompetensi.

Baca juga: Mahasiswa UB Malang membuat obat kanker mulut dari kemangi

"Dalam fase tanggap darurat ini kita berharap bisa membantu, khususnya dalam pelayanan di bidang kesehatan. Ini bukan yang pertama kali dilakukan, dulu kami pernah membantu bencana di Palu dan Lombok. Insyaallah tim EMT selalu solid dan siap sedia dalam penanganan bencana,” katanya.

Direktur RSSA Dr dr Kohar Hari Santoso mengatakan konsep dasar sebuah rumah sakit harus mempunyai Hospital Disaster and Epidemic Plan.

"RS ada bukan hanya sekadar untuk menolong orang yang datang, tetapi juga menolong mereka yang berada di luar RS, yang mengalami musibah karena bencana. Semoga teman-teman tim bisa melakukan pekerjaannya dengan aman, lancar, dan 'barokah' (berkah),” ucapnya.

Mewakili Komandan TNI AU Lanud Abdulrachman Saleh Malang Mayor Sufriadi mengatakan TNI AU siap mendukung misi kemanusiaan penanggulangan bencana, baik pendistribusian logistik, tenaga kesehatan atau relawan.

Tim EMT akan berada di Mamuju selama delapan hari. Total tenaga kesehatan yang diberangkatkan 23 orang yang terdiri atas 13 dokter dan 10 perawat, dengan berbagai spesialisasi, yaitu Emergency Medicine (2), Ilmu Penyakit Dalam (1), Orthopedi (5), Anastesi dan Terapi Intensif (4), Ilmu Kesehatan Anak (1), Manajeman Bencana (1), Perawat Anastesi (2), Perawat IGD (3). Perawat IBS (2), Perawat Ilmu Kesehatan Anak (1), dan Perawat Ilmu Penyakit Dalam (1).

Sehari sebelumnya, UB-RSSA juga memberangkatkan Tim EMT UB-RSSA untuk mendukung RS rujukan di Mamuju. EMT bekerja secara sif bersama dengan tim lain dari Unhas Makasar. Tim pertama yang diberangkatkan berjumlah 23 nakes, terdiri atas 14 dokter dan 9 perawat. (*)

Pewarta: Endang Sukarelawati

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2021