Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan Pelabuhan Probolinggo sangat potensial untuk urusan logistik dan pendukung sektor pariwisata di kawasan setempat.

“Pelabuhan Probolinggo bakal dikembangkan menjadi pusat hub perdagangan dan konektor titik-titik pariwisata unggulan di Jatim,” ujar Khofifah di sela acara Pengembangan Pelabuhan Probolinggo di Kota Probolinggo, Jumat.

Menurut dia, Pelabuhan Probolinggo digadang-gadang menjadi tempat sandarnya kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan untuk selanjutnya dibawa ke titik-titik pariwisata unggulan di provinsi setempat.

“Salah satunya kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS),” ucap orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut.

Selain masuk dalam Perpres Nomor 80 Tahun 2019, kata dia, kawasan wisata BTS menjadi satu di antara sepuluh “Bali Baru” di Indonesia yang diharapkan menjadi magnet wisatawan.

Dalam lampiran Perpres itu, pengembangan pelabuhan di sana membutuhkan alokasi anggaran APBN dan KPBU sekitar Rp9 trilliun, dan detail plan-nya dikerjakan tahun ini.

“Captive market kita adalah wisatawan dari Eropa menggunakan kapal pesiar. Rata-rata mereka menghabiskan 14 hari di Indonesia. Kami ingin mereka menghabiskan waktunya di Bromo dua hari dan di Ijen dua hari. Selama ini masing-masing hanya sehari,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Khofifah mengatakan bahwa dari sektor perdagangan, Pelabuhan Probolinggo saat ini sudah menjadi pelabuhan yang cukup besar kontribusinya bagi Jatim.

Keistimewaan dari Pelabuhan Probolinggo, lanjut dia, adalah letaknya yang strategis dilindungi Pulau Madura sebagai breakwater sehingga tinggi gelombang lautnya tidak melebihi 1,5 meter serta tingkat sedimentasi lautnya juga rendah.

“Saat ini sudah ada tiga instansi yang paparan ke pemprov. Bahkan ada yang sudah memaparkan persiapan untuk menjadikan seaport ini sampai kedalaman di atas 20 meter. Tapi kami belum putuskan,” tutur Khofifah.

Pewarta: Fiqih Arfani

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2020