Pengamat politik Ray Rangkuti menganggap peluang Airlangga Hartanto menjadi Ketua Umum Partai Golkar periode 2019-2023 cukup besar, hal ini karena telah didukung 90 persen DPD tingkat I maupun tingkat II.

"Dari sisi peluang, Airlangga sangat besar. Namun perlu komunikasi lebih baik agar dukungan itu bisa direalisasikan menjadi kekuatan politik dalam Munas Golkar," kata Ray, dalam keterangan persnya di Surabaya, Rabu.

Ia mengakui, meski besar, namun tetap semua tergantung komunikasi yang disampaikan Airlangga, karena penentu ada di internal DPD dan DPC. 

"Secara peluang lebih tinggi, namun jangan lupa pendekatan negosiator tidak bisa diabaikan," kata Ray, yang juga menjabat sebagai Direktur Lingkar Madani Indonesia.

Ia menjelaskan, secara kalkulatif hampir semua pengurus, baik di DPD dan DPC telah memberikan dukungan kepada Airlangga, dan dia juga memiliki kedekatan historis dengan partai, karena ayahnya merupakan salah satu pengurus partai beringin tersebut.

Analis politik Silvanus Alvin menilai para sesepuh Golkar pun cenderung lebih nyaman dengan Airlangga, karena salah satu hal yang jadi penentu untuk mengunci kemenangan kandidat caketum Golkar adalah political support dari para sesepuh Golkar, seperti JK, Akbar Tandjung dll.

"Munas Golkar saat ini termasuk salah satu Munas yang paling seksi. Munas yang direncanakan pada Desember mendatang bisa jadi awal baru untuk Golkar. Karena sejak di era ARB, Setya Novanto hingga saat ini tren elektabilitas Golkar masih stagnan," katanya. 

Berikutnya, siapa yang dianggap nyaman oleh Presiden Jokowi juga akan berpeluang besar, karena sebagai partai yang selalu masuk dan mendukung pemerintah, hubungan presiden dan Ketum Golkar itu jadi penting dan esensial sekali.

"Jadi dalam munas ini, gerak gerik Jokowi patut pula diperhatikan. Jokowi lebih condong ke siapa,"  kata dia.

Pewarta: A Malik Ibrahim

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019