Surabaya (Antaranews Jatim) - Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur Gentur Prihantono menyebut tanah ambles yang terjadi Jalan Raya Gubeng, Surabaya sehingga menjadi lubang besar menganga, berbeda dengan fenomena "sinkhole" atau lubang runtuhan yang muncul akibat hilangnya lapisan tanah atau bantalan batuan yang umumnya terjadi akibat aliran air di bawah tanah.
     
"Ini sangat berbeda sekali, meski beberapa orang menyamakan peristiwa itu dengan fenomena 'sinkhole' yang pernah terjadi di beberapa negara," kata Gentur kepada wartawan di Surabaya, Rabu.
     
Gentur mengatakan, hasil pengamatan sementara tim PII Jatim, amblesnya tanah di Jalan Raya Gubeng diduga akibat faktor basah dari kejenuhan tanah karena air, sehingga lapisan tanah menjadi terurai.
     
"Fenomena amblesan tanah di Jalan Raya Gubeng dikarenakan faktor kontruksi dan volume tanah. Dan kurang hati-hati dengan perilaku air di dalam tanah," tuturnya.
     
Gentur tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam peristiwa ini, dan hanya menegaskan bahwasanya yang paling penting pada setiap  proyek besar metodologinya harus benar, sebab konstruksi bangunan juga belum berdiri secara utuh, karena masih pada tingkat pengerjaan tanah.
     
Secara mekanisme, kata Gentur, dipastikan pihak pengembang telah memenuhi standar yang ditentukan dalam pengerjaan proyek, dan dianggap telah berpengalaman dalam pengerjaan proyek.
     
Selain itu, kata dia, dalam setiap pengerjaan kontruksi juga dipastikan ada manajemen, ditambah posisi Jalan Raya Gubeng yang secara sejarah tidak pernah ada masalah.
     
Namun demikian, kata dia, faktor amblesnya hanya karena faktor kurang kehati-hatian terhadap manajemen air dalam kontruksi pembangunan.
     
"Untuk faktor terjadi pergeseran lempeng tanah karena alam juga tidak mungkin, karena kawasan Jalan Raya Gubeng tidak dilewati lempengan. Yang bisa dipastikan bikin rusak itu air yang paling utama, kemudian tonase atau berat volume," katanya.
     
Ia mengatakan, secara keilmuan struktur tanah selalu berlapis-lapis, dan di dalamnya pasti ada unsur air.
     
Struktur tanah bisa menjadi padat karena ada faktor basah atau air, namun begitu ada kejenuhan yang disebabkan diambil airnya, maka struktur tanahnya akan menjadi terurai.
     
"Kalau air itu terus disedot tanpa mempertimbangkan keseimbangan pasti akan terjadi accident, dan itu bisa terjadi dalam masalah di siloam ini," katanya.
     
Oleh karena itu, kata Gentur, PII Jatim siap memfasilitasi untuk penyelidikan langsung terkait peristiwa ini, dan berharap bisa berkontribusi di setiap pembangunan nasional.
     
"Kami dari PII siap membantu, karena kami selalu peduli terhadap setiap kontruksi di negara ini," kata Gentur.
     
Sebelumnya, beberapa orang menyamakan amblesnya tanah di Jalan Raya Gubeng Surabaya dengan fenomena sinkhole yang pernah terjadi di beberapa negara, seperti di Arizona. (*)

Pewarta: A Malik Ibrahim

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018