Panyabungan, Sumut,  (Antara) - Tim SAR gabungan bersama relawan dan masyarakat telah mengevakuasi 17 korban meninggal akibat banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Sabtu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan tertulis mengatakan, sebanyak 11 titik longsor yang awalnya menutup beberapa ruas jalan di Mandailing Natal juga sudah dapat diatasi setelah alat berat dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan membersihkan material longsor.

Jumlah korban meninggal dunia tercatat 17 orang hingga Sabtu malam  yaitu 12 orang anak sekolah di Kecamatan Ulu Pungkut, 3 orang pekerja gorong-gorong jalan di Kecamatan Muara Batang Gadis, dan 2 orang yang kecelakaan mobil masuk ke Sungai Aek Batang Gadis saat banjir.

Dari 29 anak sekolah SD Negeri 235 yang diterjang banjir bandang di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, pada Jumat (12/10) sore, kondisinya 12 anak meninggal dunia dan 17 anak berhasil diselamatkan.  

Dari 17 anak yang selamat 7 anak diantaranya luka-luka dan dirawat di Puskesmas setempat. Selain itu 2 orang guru juga ditemukan selamat. Korban selamat ditemukan di bawah reruntuhan bangunan dan sebagian terseret oleh banjir bandang.

Banjir bandang juga menyebabkan 12 rumah hanyut dan rusak total, 9 rumah rusak berat dan 3 bangunan fasilitas umum rusak berat di Desa Muara Saladi, sedangkan masyarakat mengungsi.

Sedangkan 2 korban meninggal yang ditemukan di dalam mobil yang terjebur ke Sungai Aek Batang Gadis adalah seorang pegawai PT. Bank Sumut dan seorang anggota Polri yang sedang mengawal pegawai PT Bank Sumut.

Sementara itu, Camat Kecamatan Ulu Pungkut, Muhammad Johan Lubis di Mandailing Natal, Sabtu, menyampaikan rasa prihatin karena banjir tersebut telah menghanyutkan 12 orang pelajar Madrasah Diniyah desa itu. 

Ia menyebutkan, dari pengakuan saksi mata banjir bandang itu berlangsung cepat sehingga para siswa yang belajar di Madrasah yang kebetulan berada di pinggiran Sungai Siladi itu banyak yang tidak bisa menyelamatkan diri. 

"Pada saat itu para siswa sebanyak 29 orang sedang mengikuti proses belajar mengajar, kemudian banjir datang dengan cepat dan menghanyutkan 12 siswa," ujarnya. 

Setelah melakukan pencarian berjam-jam petugas dan warga  berhasil menemukan para korban tertimbun lumpur dan material kayu serta bebatuan yang terbawa arus banjir tersebut. 
Dalam kejadian itu selain belasan rumah penduduk yang rusak serta terbawa arus banjir, sejumlah fasilitas umum seperti Polindes, Madrasah, Masjid, gedung SD dan gedung PKK juga mengalami rusak berat.

Ia mengatakan  dalam peristiwa tersebut sebanyak 75 kepala keluarga juga terpaksa diungsikan ke kantor Lurah Ulu Pungkut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 
Sementara para korban yang ditemukan petugas tersebut sudah dilakukan penguburuan di tempat pemakaman umum yang ada di desa itu pada Sabtu siang. 

Adapun nama-nama korban yang meninggal akibat terbawa arus sungai adalah Isroil (9 tahun), Hapsoh (9 tahun), Alfi Sanri (9 tahun), Masitoh (9 tahun), Dahleni (10 tahun), Tiara (10 tahun) Isnan (10 tahun) Ahidan (10 tahun), Riyansyah Putra (10 tahun), Sohifan (11 tahun), Aisah (12 tahun), Mutiah. (*)

Pewarta: Supervisor

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018