Surabaya (Antaranews Jatim) - Sejumlah delegasi kongres tentang perkotaan bertararaf internasional atau "United Cities and Local Goverment" (UCLG) Asia Pasific (Aspac) menjajaki sejumlah tempat bersejarah di Kota Surabaya, Jatim, Rabu.

"Pertama kali ke Surabaya dan saya sangat tertarik melihat benda-benda sejarah di sini. Akan menjadi cerita saat pulang ke Jerman," kata salah satu peserta UCLG dari Jerman, Ify saat mengunjungi Monumen Tugu Pahlawan.

Selain delagasi dari Jerman, peserta UCLG lainnya yang ikut menjajaki tempat bersejarah di Surabaya dari Taiwan. Selain mereka mengunjungi Monumen Tugu Pahlawan juga museum House of Sampoerna.

Para delegasi tersebut berangkat dari gedung Convention Hall Dyandra atau tempat berlangsungnya UCGL menggunakan moda transportasi bus. Selama perjalanan, panitia lokal dari Pemkot Surabaya menjelaskan berbagai macam infrastruktur modern maupun tradisional serta tata kelola kota yang ada di Kota Surabaya.

Setibanya di Monumen Tugu Pahlawan, rombongan diajak berkeliling untuk melihat sekaligus mengingat kembali rentetan cerita sejarah perjuangan pertempuran yang terjadi di Kota Pahlawan dan barang-barang zaman perjuangan.

Ify mengaku tertarik melihat berbagai macam cerita serta koleksi sejarah yang ada di dalam museum di Tugu Pahlawan. Baginya, tempat tersebut sangat bagus untuk generasi muda agar dapat mengingat dan mengenang jasa para pahlawannya.

Setelah mengitari seisi barang dan mendengar cerita sejarah perjuangan di museum Tugu Pahlawan, beberapa delegasi melanjutkan perjalanan menuju House of Sampoerna. Setibanya di sana, mereka disuguhkan senyum pegawai dan aroma kretek yang sudah melegenda di Kota Surabaya sejak 1913.

Salah seorang petugas dengan cakap menjelaskan sejarah singkat museum dan silsilah keluarga Sampoerna kepada para delegasi. Beranjak ke lantai 2, rombongan nampak takjub dan antusias saat melihat cara kerja pembuatan rokok Sigaret Kretek Tangan (STK) yang semuanya dikerjakan kaum hawa.

Beberapa delegasi memberanikan diri untuk mempraktikkan cara pembuatan hingga pengemasan rokok kretek yang kini dihuni lebih dari 1.700 pekerja.

Peserta UCGL asal Taiwan, Kan Chuan Lin mengaku senang bisa berkunjung ke tempat bersejarah di Surabaya untuk pertama kalinya. "Dapat ilmu baru dan itu terlihat sangat indah," katanya.

Selain itu, Chuan juga mengapresiasi jam kerja yang diterapkan di perusahaan Sampoena. Menurutnya, pemberlakuan 7 jam kerja sesuai dengan aturan dan itu akan membuat pekerja merasa nyaman saat bekerja.

"Itu peraturan yang manusiawi dan perlu diterapkan di beberapa negara yang masih memperkerjakan pekerjanya di atas 7 jam," katanya.

Hal senada dikatakan peserta UCGL dari dalam negeri, Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Banda Aceh, Fadhil. Dirinya sangat senang dan kagum melihat cara kerja pembuatan rokok yang masih mempertahankan cara tradisional.

"Ada nilai seni yang dipertahankan dan itu sangat bagus," katanya.

Adapun para delegasi akan melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Suroboyo di kawasan Kenjeran. Mereka akan melihat berbagai macam hiburan dan atraksi keindahan Jembatan Suroboyo diterangi gemerlap lampu warna-warni dan iringan musik jazz pada malam hari. (ADV)(*)

Pewarta: Abdul Hakim

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018