Blitar (Antara) - Beribu-ribu, puluhan ribu, bahkan mungkin hingga berjuta-juta orang di Indonesia barangkali telah mengeluhkan sulitnya meninggalkan rokok atau berhenti merokok.

Meski setiap saat mencoba berupaya untuk tidak merokok, beberapa saat kemudian sudah memegang rokok dan menyulutnya dengan korek api di tangan, karena tidak tahan menahan rasa ketagian atau kecanduan yang amat sangat.

Meski setiap saat didamprat anak, istri, hingga ditegur oleh teman kantor atau tetangga di permukiman yang bangunan rumahnya berhimpit, setiap kali pula menyulut rokok lagi yang sudah berada di sela-sela jari tangan.

Orang yang kecanduan rokok justru cenderung terus menambah jumlah batang rokok yang diisap, dan biasanya merokok seusai makan nasi dan lainnya atau minum minuman yang manis, seperti kopi dan teh.

Berdasarkan data tahun 2017, lebih dari 36,3 persen penduduk Indonesia telah menjadi perokok. Menurut Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek saat membuka Indonesian Conference on Tobacco or Health di Balai Kartini, Jakarta, pada Senin (15/5), bahkan 20 persen remaja usia 13-15 tahun yang umumnya pelajar, telah menjadi perokok.

Yang mencengangkan, remaja laki-laki yang merokok bertambah banyak. Data tahun 2016 memperlihatkan peningkatan jumlah perokok remaja laki-laki mencapai 58,8 persen. Bahkan kebiasaan merokok di Indonesia dilaporkan setiap tahunnya telah membunuh setidaknya 235 ribu jiwa.

Dari 36,3 persen atau sekitar sepertiga penduduk Indonesia yang telah menjadi perokok tersebut, yang berkeluarga maupun yang masih berstatus siswa dan mahasiswa, sebagian tentu telah berupaya untuk berhenti merokok.

Baik berupaya berhenti merokok atas desakan anak, istri, orang tua, guru, teman dekat, teman sekolah/kuliah atau teman kantor. Apalagi era kini saat di berbagai kantor hanya membolehkan merokok di ruang khusus bagi perokok dan di lingkungan sekolah dilarang merokok, serta adanya larangan merokok di tempat umum.

Selain itu juga tuntutan berhenti merokok dari diri sendiri misalnya karena alasan kesehatan. Ingin berhenti merokok karena khawatir terkena suatu penyakit yang bisa mematikan.

Berdasarkan hal tersebut, barangkali sudah jutaan orang di Indonesia yang berupaya berhenti merokok, namun mengalami kesulitan untuk meninggalkannya secara total alias gagal.

Berbagai cara dilakukan, seperti memaksa mengurangi jumlah batang rokok yang disulut setiap hari, memaksa tidak membeli rokok atau berarti memaksa untuk tidak merokok, menggantinya dengan permen, menggunakan rokok herbal yang katanya justru menyehatkan, hingga mencoba rokok elektrik.

Dari sejumlah cara dan upaya untuk berhenti merokok tersebut, ternyata metode tiba-tiba menghentikan kebiasaan merokok saat itu juga secara total menjadi cara yang sementara ini dianggap paling efektif.

Upaya berhenti merokok secara total saat itu juga, dianggap paling efektif berdasarkan hasil studi perguruan tinggi tertua berbahasa Inggris, Universitas Oxford yang berlokasi di kota Oxford, Inggris.

Cara tegas berhenti merokok tanpa menunggu kesempatan untuk mempersiapkannya tersebut, menurut penulis studi, Nicola Lindson-Hawley, Ph D, dianggap paling efektif, asalkan diikuti keseriusan untuk tidak kembali mencoba merokok.

Hal ini berbeda dengan upaya berhenti merokok secara bertahap dengan mengurangi jumlah batang rokok yang diisap setiap harinya, yang berdasarkan pengalaman banyak orang, jarang yang berhasil.

Untuk mendukung dan memudahkan upaya berhenti merokok tersebut, ada satu pengalaman moderat yang tampaknya perlu ditiru, yakni sebelum berhenti merokok secara total, berlatih terlebih dahulu supaya bisa tidak merokok seusai makan atau minum minuman yang manis. Banyak perokok yang mengatakan merokok untuk menghilangkan rasa asam di mulut.

Bagaimana cara berlatih tidak merokok seusai makan dan minum minuman yang manis, yakni dengan mengalihkan perhatian, misalnya menyibukkan diri bekerja, tangan mengetik dan lainnya tanpa menghiraukan keinginan untuk merokok.

Setelah berlatih terus menerus tidak merokok seusai makan dan minum selama berbulan-bulan, maka akan terasa biasa saja tanpa menghisap rokok. Setelah bisa menghentikan rokok seusai makan dan minum, baru rencanakan untuk total tidak merokok.

Kenapa berhenti merokok perlu diupayakan dengan berlatih, karena tantangan terberat untuk kembali merokok berdasarkan pengalaman banyak orang adalah seusai makan dan minum biasanya muncul kecanduan untuk merokok.

Munculnya rasa kecanduan untuk kembali merokok, biasanya tidak tertahankan, sehingga orang yang telah berupaya berhenti merokok berhari-hari terpaksa kembali merokok dan upaya berhenti merokokpun gagal.

Setelah berbulan-bulan berhasil tidak merokok seusai makan dan minum, namun masih bisa merokok pada waktu lainnya, maka tantangan terberat sudah bisa dilalui.

Setelah tantangan terberat tidak merokok seusai makan dan minum, maka tinggal direncanakan saja untuk total mulai berhenti merokok.

Berdasarkan pengalaman banyak orang, memulai berhenti merokok saat bulan Ramadhan bagi muslim yang tentu berpuasa, akan lebih mudah. Hal ini disebabkan selama waktu sehari penuh, sudah diniatkan untuk berpuasa, tidak makan tidak minum, tentu juga tidak merokok.

Tantangan yang masih berat adalah saat seusai berbuka puasa dengan takjil. Rasa kecanduan ingin merokok biasanya kembali muncul. Karena itu, seusai berbuka puasa segera lakukan kesibukan berwudlu dan sholat Maghrib, syukur berjamaah di masjid, sehingga aktivitasnya lebih banyak dan semakin lama menyita waktu dan perhatian lain.

Setelah itu, baru makan nasi dan minum lagi, sehingga bisa memancing keinginan untuk kembali merokok. Tantangan ini bisa diatasi dengan menggosok gigi menggunakan pasta gigi.

Setelah menggosok gigi, kembali lakukan aktivitas sholat tarawih berjamaah di masjid, sehingga juga memakan waktu lebih lama dan terhindar dari "kekuatan" candu keinginan untuk merokok kembali.

Seusai sholat tarawih, hindari aneka makanan dan minuman yang bisa memancing munculnya rasa kecanduan ingin merokok. Cukup minum air putih saja yang tidak ada rasanya.

Lakukan aktivitas ala kadarnya seperti membaca, mengaji dan lain-lain hingga tiba jam istirahat, tidur malam, misalnya pukul 21.00 - 22.00.

Bangun lagi waktu makan sahur antara jam tiga-jam empat menjelang subuh. Seusai makan sahur, segera gosok gigi dengan pasta gigi lagi, guna menghindari keinginan merokok.

Setelah itu tentu berwudlu dan sholat subuh berjamaah di masjid terdekat. Lakukan aktivitas berulang seperti itu selama bulan Ramadhan, insya Allah saat kemudian Idul Fitri hingga seterusnya sudah mampu melupakan keinginan merokok untuk selamanya. (*)

Pewarta: Tunggul Susilo

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018