Jember (Antara Jatim) - Pengamat hubungan internasional dari Universitas Jember Agus Trihartono PhD menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba mencari "gelanggang" baru terkait dengan kebijakannya yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Dari banyak diskusi, saya melihat Amerika Serikat (AS) dan Israel sedang meninggalkan permainan lama dan mencoba membuat gelanggang baru dengan kebijakan itu karena konflik Palestina-Israel sudah sangat berkepanjangan merugikan AS," katanya di Gedung CDAST Universitas Jember, Jawa Timur, Senin.

Menurutnya pendapat tersebut mungkin terlalu netral dan tidak memihak, namun semata-mata hal tersebut dilakukan untuk bisa melihat lebih jelas permasalahan atas konflik Timur Tengah tersebut.

"Pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah nenimbukan reaksi keras di seluruh dunia, termasuk dari negara-negara aliansi AS yang tidak setuju atas kebijakan itu," tuturnya.

Kebijakan pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem, lanjut dia, bukan menjadi tujuan utama dari pemimpin negeri Paman Sam itu, namun AS sudah pada titik jenuh ingin melepaskan diri dari negosiasi yang lama karena belum membuahkan hasil.

"Istilah saya, dalam main kartu, AS sedang melakukan 'kocok ulang' permainan. Salah satu alasan rasionalnya sangat mungkin karena 'gelanggang' lama sudah terlalu jenuh, bertele-tele, bahkan sudah buntu hingga merugikan Israel," katanya.

Agus menilai AS sedang meminimalkan peluang kerugian jangka panjang baik bagi Amerika maupun Israel dan berusaha melepaskan perannya sebagai mediator antara Israel dan negara-negara Arab dalam pendekatan dan perundingan konvensional yang sudah ada selama ini.

"Permainan 'kocok ulang' diharapkan bisa memberi ruang bagi Israel dan AS untuk reposisioning dengan aturan main baru," ucap peneliti Center for Research in Social Science and Humanities (C-RiSSH).

Keputusan Trump, lanjut dia, memang sulit dipahami dalam kaitannya dengan sejarah proses perdamaian Timur Tengah, tetapi lebih mudah dengan melihat karir dan kepribadiannya yang memperlakukan masalah Israel-Palestina sebagaimana negosiasi "real estate" di New York yang jauh dengan kepekaan politik, sejarah, dan budaya.

"Langkah Trump tentu tidak menguntungkan Palestina, namun kebuntuan perundingan Israel-Palestina selama ini sangat merugikan AS dalam jangka panjang, sehingga ia membuat langkah yang sangat pragmatis," katanya. 

Ada kekhawatiran juga, perundingan yang dilakukan Israel-Palestina selama ini akan menunjukkan semakin lemahnya Israel dalam posisinya, sehingga perlu ada permainan "kocok ulang" yang berpeluang lebih besar untuk meningkatkan kekuasaan Israel.

"Langkah yang paling memungkinkan bagi Palestina dan negara-negara Arab, serta Indonesia adalah 'mengepung' Amerika Serikat dan Israel dalam perundingan multilateral melalui Dewan Keamanan PBB," ujarnya, menambahkan.(*)

Pewarta: Zumrotun Solichah

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017