Malang (Antara Jatim) - Dirjen Potensi Pertahanan (Pothan) Dr Sutrimo mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak mudah diaduk-aduk sehingga memancing orang lain masuk, teramsuk radikalisme dan terorisme.
"Jangan biarkan orang lain (asing) masuk negeri ini dan memancing-mancing. Dan, kita juga jangan mudah diaduk-aduk dengan berbagai isu, sebab kita punya potensi dengan keberagaman agama dan suku," kata Sutrimo usai memberikan kuliah tamu di hadapan ribuan mahasiswa baru (Maba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Malang, Jawa Timur, Senin.
Kuliah umum dalam kaitannya dengan Pesmaba UMM tersebut, sejatinya menghadirkan Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, namun ada tugas mendadak dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), kedatangannya di UMM ditangguhkan dan diwakilkan kepada Dirjen Pothan Dr Sutrimo.
Menurut dia, Indonesia punya potensi karena keberagaman agama dan suku, sebab kalau paham agama dan suku berselisih , akan terjadi perang saudara. Kalau sudah terjadi perang saudara, negeri ini akan hancur.
Menyinggung kasus Rohingya, Sutrimo mengatakan itu merupakan kasus kemanusiaan."Kita harus melihatnya dengan perspektif dan aspek yang lebih luas. Itu kan juga ada yang masuk dan memancing, padahal, sebelumnya tidak pernah terjadi seperti itu," ucapnya.
Sementara itu, kuliah umum Menhan Ryamizard Ryacudu yang dibacakan Sutrimo, berharap mahasiswa baru UMM akan memiliki karakter anak bangsa, yaitu berkarakter, disiplin, taat hukum, dan tidak menggunakan narkoba dalam bentuk apapun.
Nilai-nilai kesadaran bela negara, katanya, harus dimiliki oleh mahasiswa dan masyarakat pada umumnya karena sebagai bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan. "Kita sudah diberi kehidupan di bumi Indonesia, sehingga sudah seharusnya kita membela negara, bangga menjadi bangsa Indonesia, mencintai Tanah Iir, dan rela berkorban untuk membangun bangsa ini," ujarnya.
Mengenai potensi ancaman negara, Sutrimo mengatakan ada dua hal, yakni ancaman militer, artinya negeri ini diserang pasukan militer dari negara lain. Dalam kondisi seperti itu, TNI dan Polri berada di garda depan dan rakyat memberikan dukungan serta bantuan.
Selain itu, juga ada ancaman nonmiliter, seperti bahaya radikalisme, narkoba, pencurian dengan alat, bencana alam, serta wabah penyakit. "Ancaman ini tampak didepan mata kita dan merupakan ancaman sehari-hari yang harus kita hadapi. Ancaman lainnya adalah disorientasi bangsa, ini yang sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI," ucapnya.
Apalagi, katanya, saat ini sdah mulai bermunculan persaingan-persaingan antarnegara. "Persaingan antarnegara ke depan adalah persaingan sumber daya dan energi serta bahan bakar, ini yang harus terus kita jaga karena negeri ini makmur sebagai buah dari perjuangan leluhur kita," ucapnya.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017
"Jangan biarkan orang lain (asing) masuk negeri ini dan memancing-mancing. Dan, kita juga jangan mudah diaduk-aduk dengan berbagai isu, sebab kita punya potensi dengan keberagaman agama dan suku," kata Sutrimo usai memberikan kuliah tamu di hadapan ribuan mahasiswa baru (Maba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Malang, Jawa Timur, Senin.
Kuliah umum dalam kaitannya dengan Pesmaba UMM tersebut, sejatinya menghadirkan Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, namun ada tugas mendadak dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), kedatangannya di UMM ditangguhkan dan diwakilkan kepada Dirjen Pothan Dr Sutrimo.
Menurut dia, Indonesia punya potensi karena keberagaman agama dan suku, sebab kalau paham agama dan suku berselisih , akan terjadi perang saudara. Kalau sudah terjadi perang saudara, negeri ini akan hancur.
Menyinggung kasus Rohingya, Sutrimo mengatakan itu merupakan kasus kemanusiaan."Kita harus melihatnya dengan perspektif dan aspek yang lebih luas. Itu kan juga ada yang masuk dan memancing, padahal, sebelumnya tidak pernah terjadi seperti itu," ucapnya.
Sementara itu, kuliah umum Menhan Ryamizard Ryacudu yang dibacakan Sutrimo, berharap mahasiswa baru UMM akan memiliki karakter anak bangsa, yaitu berkarakter, disiplin, taat hukum, dan tidak menggunakan narkoba dalam bentuk apapun.
Nilai-nilai kesadaran bela negara, katanya, harus dimiliki oleh mahasiswa dan masyarakat pada umumnya karena sebagai bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan. "Kita sudah diberi kehidupan di bumi Indonesia, sehingga sudah seharusnya kita membela negara, bangga menjadi bangsa Indonesia, mencintai Tanah Iir, dan rela berkorban untuk membangun bangsa ini," ujarnya.
Mengenai potensi ancaman negara, Sutrimo mengatakan ada dua hal, yakni ancaman militer, artinya negeri ini diserang pasukan militer dari negara lain. Dalam kondisi seperti itu, TNI dan Polri berada di garda depan dan rakyat memberikan dukungan serta bantuan.
Selain itu, juga ada ancaman nonmiliter, seperti bahaya radikalisme, narkoba, pencurian dengan alat, bencana alam, serta wabah penyakit. "Ancaman ini tampak didepan mata kita dan merupakan ancaman sehari-hari yang harus kita hadapi. Ancaman lainnya adalah disorientasi bangsa, ini yang sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI," ucapnya.
Apalagi, katanya, saat ini sdah mulai bermunculan persaingan-persaingan antarnegara. "Persaingan antarnegara ke depan adalah persaingan sumber daya dan energi serta bahan bakar, ini yang harus terus kita jaga karena negeri ini makmur sebagai buah dari perjuangan leluhur kita," ucapnya.(*)
Video oleh: Endang Sukarelawati
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017