Sumenep (Antara Jatim) - Harga garam dapur di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, naik sekitar 50 persen dari sebelumnya sejak pekan lalu diduga akibat pasokan yang terbatas dari distributor.

"Harganya naik hingga 50 persen lebih jika dibanding sebelumnya," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep, Saiful Bahri di Sumenep, Jumat.

Ia menjelaskan, harga garam dapur di pasaran memang bervariasi, tergantung merek dan kemasan.

Saat ini, harga garam dapur dalam kemasan dan berupa butiran halus Rp6 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp4 ribu.

Sementara garam dapur yang berbentuk kotak dan tidak dikemas, harganya Rp1.500 per buah dari sebelumnya Rp800.

"Kami melalui staf terus memantau pasokan maupun stok garam dapur di tingkat pedagang," kata Saiful, menerangkan.

Ia menjelaskan, kenaikan harga garam dapur itu diduga dampak dari stok garam konsumsi di kalangan petani yang terbatas akibat produksi tak maksimal.

Kondisi cuaca yang kurang menentu pada masa kemarau tahun ini berupa seringnya hujan membuat produksi garam konsumsi oleh petani memang tidak maksimal.

"Sejak beberapa pekan lalu, kami sering berkoordinasi dengan pimpinan Dinas Perikanan Sumenep guna menanyakan produksi dan stok garam konsumsi di kalangan petani," ujarnya. 

Sementara Kepala Dinas Perikanan Sumenep, Arif Rusdi memperkirakan produksi garam rakyat (konsumsi) pada tahun ini tak maksimal akibat kondisi cuaca kurang mendukung.

Hingga Juli 2017, produksi sementara garam rakyat yang dihasilkan petani di Sumenep sekitar 850 ton dari target 368 ribu ton.

Produksi sementara garam rakyat di Sumenep yang sekitar 850 ton itu dihasilkan oleh petani di sembilan kecamatan, baik daratan maupun kepulauan.

Sesuai data di Dinas Perikanan Sumenep, lahan garam rakyat pada tahun ini seluas 2.068 hektare yang tersebar di sembilan kecamatan, yakni Kalianget, Gapura, Saronggi, Pragaan, Giligenting, Raas, Arjasa, Kangayan, dan Sapeken. (*)

Pewarta: Slamet Hidayat

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017