Banyuwangi (Antara Jatim) - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin menyatakan mendukung Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengembangkan pariwisata halal yang kini memang menjadi tren di dunia.

"Saya sangat mengapresiasi jika ada yang mengembangkan 'halal tourism'. Indonesia sangat cocok untuk pengembangan jenis pariwisata tersebut," ujar KH Maruf Amin yang juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu saat bertemu dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jumat.

Sebagaimana dikutip pernyataan tertulis Pemkab Banyuwangi, Kiai Maruf Amin menyarankan agar Pemkab Banyuwangi menggandeng para pelaku jasa travel umrah dan haji dalam mengembangkan dan mempromosikan pariwisata halal ke calon wisatawan dari Timur Tengah.

"Ini bisa digandeng oleh Banyuwangi jika ingin mengembangkan pariwisatanya," paparnya.

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan ada sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Banyuwangi yang berpotensi dikembangkan menjadi tujuan pariwisata halal.

"Misalnya di Pantai Grand Watudodol atau di Pulau Tabuhan. Nanti bisa disegmentasi, misalnya khusus keluarga. Bisa juga ada 'club beach' khusus Muslimah dan anak-anak. Ini bukan SARA lho, ini murni menggarap pasar pariwisata. Di sejumlah negara, konsep seperti ini laris-manis diserbu wisatawan Muslim," ujar Anas,

Selain itu, kata Anas, tujuan wisata lain yang bisa dikembangkan adalah Pulau Santen. Namun, di lokasi tersebut, masih perlu dipersiapkan infrastrukturnya karena belum sebaik Pantai Grand Watudodol atau di Pulau Tabuhan.

Anas menyebut, potensi wisata halal cukup besar. Populasi umat Islam di dunia sekitar 1,6 miliar jiwa dan diperkirakan bakal terus bertambah. Belanja wisata halal pada 2012 mencapai 137 miliar dolar AS.

"Saya juga sudah berkomunikasi dengan Menteri Pariwisata Pak Arief Yahya. Beliau bilang, wisatawan Muslim dari Timur Tengah nilai belanjanya cukup besar, rata-rata 1.200 dolar AS per orang per kunjungan," kata Anas.

Untuk mendukung pariwisata halal, ujar Anas, sejumlah hal perlu dilakukan, di antaranya mendorong sertifikasi halal untuk hotel dan restoran.

"Thailand itu meski bukan negara yang mayoritas penduduknya Muslim, punya 100 hotel dan restoran bersertifikat halal. Jadi sekali lagi, ini bukan soal SARA di dunia wisata, tapi bicara segmen pasar. Di Singapura bahkan ada lebih dari 2.500 hotel dan restoran yang bersertifikat halal. Saya akan bicara ke sejumlah pemilik hotel di Banyuwangi untuk urus sertifikasi halal ke asosiasi terkait," tutur Anas.(*)

Pewarta: Masuki M. Astro

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017