Surabaya (Antara Jatim) - Anggaran untuk dana jatah hidup bagi pengungsi korban konflik Syiah asal Sampang di Rusunawa Jemundo Sidoarjo, Jawa Timur untuk 85 kepala keluarga mencapai Rp12 miliar lebih.

"Anggaran jatah hidup sudah tepatnya sudah mencapai Rp12,137 miliar sejak 2012 atau awal konflik sampai saat ini," ujar Kabiro Administrasi Kesra Setdaprov Jatim Siti Nurahmi kepada wartawan di Surabaya, Jumat.

Hingga kini, kata dia, sebanyak 349 jiwa menjadi korban konflik tersebut dengan per jiwanya mendapat jatah hidup sebesar Rp709 ribu per bulan.

Sebelumnya, sejak Agustus 2012 hingga 22 Juni 2013, bantuan permakanan selama hidup di penampungan GOR Indoor Kabupaten Sampang ditanggung Dinas Sosial dan BPBD setempat, kemudian, sejak 22 Juni 2013, warga Syiah dievakuasi ke Rusunawa Jemundo Sidoarjo hingga sekarang.

Ia juga mengaku belum tahu sampai kapan dana jatah hidup itu diberikan dan sampai kini pihaknya tetap berkoordinasi dengan Kementerian Sosial RI serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

"Koordinasi dan komunikasi terus kami lakukan terkait kelanjutan nasib pengungsi konflik sosial tersebut," ucapnya.

Yang perlu diingat, lanjut dia, Rusunawa Jemundo bukan tempat penampungan permanen, melainkan sementara karena warga di Sampang masih menolak para pengungsi Syiah ini kembali ke tempat tinggalnya.

Untuk diketahui, pada 29 Desember 2011 terjadi konflik sosial pertama yang berawal dari permasalahan pribadi antara Ustadz Takdjul Muluk dan Ustadz Rois.

Lalu, konflik sosial kedua terjadi pada 26 Agustus 2012 hingga menimbulkan aksi pengerusakan serta pembakaran rumah.

Sesuai kesepakatan dengan Menteri Agama, ditugaskan kepada Kanwil Kemenag Jatim bersama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan upaya rekonsiliasi agar pengungsi Syiah bisa kembali ke tanah kelahirannya di Sampang. (*)

Pewarta: Fiqih Arfani

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016