Berada di atas kapal dan mengapung di laut selama sepekan, merupakan pengalaman kali pertama yang memang belum pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi terjadwal.

Selama tujuh hari, bahkan lebih, pemandangan yang disaksikan tak lain adalah hamparan lautan luas. Kanan, kiri, depan, belakang, semuanya airr....

"Biasanya naik kapal paling lama 2-3 hari. Tapi ini seminggu," ucap Bram, bapak satu anak yang berkesempatan mengikuti misi pengiriman kapal perang BRP Tarlac berkode lambung 601 ke Filipina.

Kapal jenis SSV yang panjangnya 123 meter itu merupakan kapal perang ekspor perdana buatan PT PAL Indonesia.

Senja pertama. Suatu sore di Tanjung Perak, sebuah pelabuhan di tepi laut sisi utara Kota Surabaya. Kapal belum berangkat, hanya bersandar di dermaga dengan pemandangan ratusan kapal berbagai jenis.

Jelang pukul 5.30 WIB, matahari nyaris terbenam. Tak tampak betul bagaimana detilnya sang mentari hilang karena tertutup oleh kapal-kapal di kawasan pelabuhan.

Senja kedua. Masih tetap di kawasan Tanjung Perak. Bedanya, sore itu kapal bergerak, berjalan menuju laut lepas. Pemandangan ratusan kapal masih mendominasi.

Senja ketiga mulai berbeda. Berada di Laut Jawa dengan pemandangan tak ada satu kapal pun lalu lalang beraktivitas. Jelas terlihat bagaimana sang mentari tenggelam di ufuk barat.

Sebelum menghilang, awan-awan yang semula putih, berubah menjadi gelap, dan semakin menghitam mengiringi tenggelamnya matahari hingga benar-benar tak tampak.

"Kalau di darat, belum tentu kita bisa melihat bagaimana matahari terbenam," tambah Bram, yang memilih menghabiskan sore dengan berfoto selfie berlatar "sunsite". Asyiikkk...

Senja keempat nyaris sama dengan senja sehari sebelumnya. Yang berbeda, kali ini suatu sore di Selat Makassar. Sebuah selat yang memisahkan antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Kalimantan.

Irfan, salah seorang pelaut yang bertugas di anjungan sempat berucap syukur dan berterima kasih kepada Allah SWT karena diberi kesempatan melihat langsung akan keindahan ciptaan-NYA.

"Saya memang pelaut dan sering menghabiskan waktu di laut. Saat sore dan menjelang matahari terbenam adalah saat-saat yang indah karena pemandangan di sisi barat," ucapnya.

Setiap sore, langit memang menguning. Awan-awan gelap berserakan tidak rapi di langit barat. Semakin jauh, tampak awan-awan itu semakin dekat dengan laut dan seolah ingin tenggelam mengikuti sang surya yang perlahan tenggelam.

Senja kelima sudah berada di negara orang, tepatnya di Perairan Filipina. Meski belum jauh meninggalkan teritorial Indonesia, namun laut-laut dengan segala yang dimilikinya merupakan hak negara lain.

Tak boleh ada nelayan asal Indonesia beraktivitas mencari ikan dan menebar jala di sana karena dinilai melanggar aturan. Ancamannya, bisa ditindak tegas dan dipulangkan paksa. Kondisi seperti itu berlaku di semua negara manapun yang memiliki wilayah perairan.

Karena masih di laut maka tak ada yang berbeda saat senja menjelang. Matahari tetap seperti biasanya. Perlahan turun, perlahan tenggelam dan perlahan hilang.

Senja keenam. Kapal sudah mendekati Kota Manila, sebuah Ibu Kota Filipina. Meski belum tampak, namun pulau-pulau yang berada di kanan-kiri kapal sudah mengabarkan bahwa tidak lama lagi akan tiba. Horeee....

Daratan menjadi sebuah harta di lautan. Mungkin sama seperti orang menemukan emas. Berharga karena ada daratan sama dengan ada sinyal telepon seluler.

"Kalau ada sinyal maka kita mulai bisa menghubungi keluarga dan memberi kabar orang rumah. Sebuah aktivitas yang tak ada selama lima hari sebelumnya," tukas Faruq, salah seorang awak kapal.

Di ufuk barat pun berbeda. Berhari-hari mengapung dengan pemandangan laut lepas, kini senja sang mentari tak tampak detil tenggelamnya karena terhalang gugusan pulau di Filipina.

"Wah, matahari terbenam tetap indah ya meski dibalik pulau. Sinarnya tetap menembus ke awan. Lihat itu," celetuknya sembari memperlihatkan sinar terang matahari di awan yang sudah semakin gelap.

Hari ketujuh. Kapal benar-benar berhenti, namun lego jangkar di sekitar 3-4 mil dari bibir pantai Manila. Namun saat senja, berbeda dengan enam hari sebelumnya.

Sinarnya terhalang kapal-kapal lain yang juga lego jangkar. Bahkan saat hendak tenggelam, tak tampak betul karena daratan sudah jelas terlihat dan seolah menghalangi proses terbenam.

Ya, sebuah pengalaman yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Jika biasanya melihat matahari terbenam dari daratan, namun selama tujuh hari berturut-turut menyaksikan langsung bagaimana sang surya tenggelam. Subhanallah...!!

Pewarta: Fiqih Arfani

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016