Tulungagung (Antara Jatim) - Sejumlah pihak mengkhawatirkan diteruskannya pembangunan talud penyangga jalur lingkar timur Kota Tulungagung akan rawan jebol akibat tekanan air ke dalam tanah timbun yang ditengarai menyalahi besaran teknis (bestek) konstruksi jalan-jembatan.
    
"Jika kontraktor mengerjakanya sesuai perencanaan yang benar, tanah uruk itu tidak akan ambles mendesak pelengseng hingga jebol seperti itu," kritik Direktur LSM Bintara Studies and Research, Kholid Thohiri di Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu.
    
Menurut Kholid, seharusnya sejak awal hasil pekerjaan pelaksana proyek sudah ditolak saat masih di tingkat pengawasan awal, sebab konstruksi talud yang nyaris tegak lurus dengan ketinggian mencapai empat meter itu berisiko ambrol saat mengalami tekanan pada badan jalan yang akan dibangun di atas tanah timbun.
    
Selain itu, Kholid meyakini timbunan tanpa pemadatan akan menyebabkan badan jalan mudah ambles, terutama saat penghujan.
    
Kritik serupa dilontarkan pengamat jasa konstruksi di Tulungagung, Eko NS yang mempersoalkan perencanaan bangunan jalan sayap jembatan jalur lingkar timur yang tidak matang dan terkesan asal-asalan.
    
"Kalau melihat jenis material dan penampang urukan yang 'mlotrok' (melorot/ambles) bersama talud yang ambrol, sepertinya isi timbunan hanya berupa sirtu dan tanah uruk," kata Eko.
    
"Ini kesalahan tidak hanya di tingkat perencanaan dan pelaksanaan, tapi juga sistem pengawasan yang longgar dan sepertinya 'kompromis'," kata Eko.
    
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kejaksaan Negeri Tulungagung, Darwin Noor memastikan pihaknya bakal aktif melakukan pemantauan terhadap proyek ring road timur tersebut.
    
"Kami akan menindaklanjuti jika memang ada pengaduan dan memang ditemukan indikasi pelanggaran dalam pelaksanaan proyek," ujarnya.
    
Menurutnya, ambrolnya konstruksi talud atau pelengseng jalan penghubung jembatan di jalur lingkar timur itu murni karena faktor alam.
    
Tingginya curah hujan menyebabkan resapan air ke dalam material timbunan meningkat tajam, dan mendesak ke arah pelengseng sehingga terjadi jebol.
    
"Konstruksinya tidak ada yang salah. Jika terjadi ambrol, itu karena memang faktor hujan. Kerusakan saat ini sudah dierbaiki karena memang masih menjadi tanggung jawab rekanan," kata Sutrisno.(*)

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016