Vatikan (Antara/Reuters) - Paus Fransiskus pada Kamis mendesak warga semua agama dan budaya bersatu memerangi perbudakan kiwari dan perdagangan manusia, dengan mengatakan dalam misa pertama 2015 bahwa setiap orang memiliki hak bebas, yang diberikan Tuhan.
Misa di Basilika Santo Petrus itu menandai Hari Damai Dunia Gereja Katolik Roma. Tema tahun ini adalah "Bukan Budak Lagi, tapi Saudara".
"Kita semua diserukan bebas, semua diserukan menjadi putra dan putri, dan masing-masing, sesuai dengan tanggung jawabnya, diserukan memerangi bentuk kiwari perbudakan. Setiap orang, budaya dan agama, mari kita bergabung," katanya.
Pada bulan lalu, Fransiskus mengimbau penikmat menghindari barang murah, yang mungkin hasil dari kerja paksa atau bentuk lain penghisapan.
Pesan itu dikirimkan kepada kepala negara dan pemerintah, lembaga antarbangsa dan paroki di seluruh Gereja, yang beranggotakan 1,2 miliar.
Paus Argentina itu membuat pembelaan pendatang dan pekerja menjadi soal utama kepausannya. Pada misa Vesper pada malam Tahun Baru, ia mengutuk pengelola dan penjahat di Roma, yang dituduh mengantongi dana warga untuk membantu pendatang miskin, dengan mendesak "pembaruan kerohanian dan kejiwaan".
Daftar kedua perbudakan dunia, yang dilansir pada November oleh Yayasan Jalan Bebas, kelompok hak asasi manusia berpusat di Australia, memperkirakan hampir 36 juta orang hidup sebagai budak, dijual ke pelacuran, dipaksa bekerja manual, korban jeratan utang atau lahir ke dalam perbudakan.
Sesudah misa itu, Paus menyampaikan kebiasaan pidato siang Tahun Baru kepada puluhribuan orang, sebagian besar ikut dalam pawai perdamaian ke Vatikan.
"Perdamaian selalu mungkin, tapi kita harus mengusahakannya. Mari kita berdoa bagi perdamaian," katanya kepada kerumunan orang membawa balon dan spanduk bertuliskan semboyan perdamaian.
Sri Paus pada Rabu berbicara melalui telepon dengan warga Irak di penampungan pengungsi di dekat kota utama Kurdi, Arbil, dan meyakinkan bahwa ia mengingat mereka pada Natal.
Warga Irak itu merupakan bagian dari pengungsi, yang meninggalkan rumah mereka di sekitar Mosul pada musim panas lalu karena serangan kelompok keras Negara Islam.
Paus berbicara dengan mereka menggunakan sambungan telepon satelit, yang disiapkan saluran televisi Katolik, TV 2000, untuk menyampaikan dukungannya bagi pengungsi.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015