Di sebuah ruang pertemuan di The Alana Hotel Surabaya, suara presentasi tentang derek industri, robot gudang, dan sistem otomatis terdengar bersahutan. 

Namun seminar yang digelar divisi MHE dari Jebsen & Jessen Technology Indonesia pada Kamis (7/5/2026) itu sejatinya bukan sekadar ajang memamerkan alat berat atau teknologi baru. Ada pesan yang lebih besar: industri Indonesia sedang bergerak menuju era kerja yang lebih cerdas, presisi, dan efisien.

Seminar bertajuk “MHE Crane & Automation Seminar” tersebut menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan industri Jawa Timur dengan perkembangan teknologi penanganan material dan otomasi pergudangan dunia. 

Bersama perusahaan asal Spanyol, Elebia Autohooks, MHE memperkenalkan teknologi overhead crane modern hingga sistem pergudangan otomatis yang kini mulai banyak dibutuhkan berbagai sektor industri.

Bukan tanpa alasan Surabaya dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan. Jawa Timur saat ini menjadi salah satu pusat industri terbesar di Indonesia. Dari kawasan manufaktur plastik, pengolahan minyak sawit, pulp dan kertas, otomotif, pengolahan makanan laut, hingga industri pergudangan dan distribusi, semuanya membutuhkan efisiensi yang semakin tinggi di tengah persaingan global.

Di sinilah teknologi menjadi jawaban.


Derek yang “berpikir”

Salah satu teknologi yang paling banyak menarik perhatian peserta adalah overhead crane berkapasitas hingga 80 ton yang telah dilengkapi Intelligent Crane System. Teknologi ini membuat pergerakan derek menjadi lebih stabil dan presisi, sekaligus meminimalkan ayunan saat mengangkat atau memindahkan beban berat.

Bagi industri, hal semacam ini bukan sekadar soal kecanggihan. Ayunan kecil pada derek dapat berarti risiko kecelakaan kerja, kerusakan material, hingga keterlambatan produksi.

Sistem tersebut juga dilengkapi kemampuan pemantauan keselamatan secara digital. Mulai dari data durasi penggunaan alat, berat beban yang diangkat, hingga proteksi terhadap panas berlebih dan kelebihan muatan dapat dipantau secara otomatis.

Perlahan, mesin-mesin industri tak lagi hanya menjadi alat bantu tenaga manusia. Mereka kini “berpikir”, membaca risiko, dan membantu operator bekerja dengan tingkat keselamatan lebih tinggi.


Gudang yang bergerak sendiri

Tak hanya derek, seminar itu juga memperlihatkan bagaimana wajah pergudangan modern berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Jika dahulu gudang identik dengan rak tinggi, pekerja yang mondar-mandir, dan proses pencatatan manual, kini semuanya mulai digantikan oleh sistem otomatis.

MHE memperkenalkan teknologi seperti AGV (Autonomous Guided Vehicle), AMR (Autonomous Mobile Robot), hingga Automated Storage & Retrieval System. Teknologi ini memungkinkan barang bergerak, tersimpan, hingga ditemukan kembali secara otomatis melalui sistem perangkat lunak terintegrasi.

Bahkan, ada pula Vertical Storage Machine yang mampu memaksimalkan penggunaan ruang secara vertikal, sesuatu yang semakin penting di kawasan industri modern dengan keterbatasan lahan.

Bagi perusahaan, otomasi bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan. Efisiensi biaya operasional, konsistensi produktivitas, keselamatan kerja, hingga akurasi penyimpanan barang menjadi faktor yang menentukan daya saing industri.


Teknologi yang menyesuaikan daerah

General Manager Divisi MHE PT Jebsen & Jessen Technology Indonesia Doyo Lujeng Dwiarso mengatakan perusahaan ingin menghadirkan teknologi yang sesuai dengan karakteristik setiap wilayah di Indonesia.

“Jebsen & Jessen Group telah beroperasi selama 130 tahun dan sebagai perusahaan jaringan global di 26 negara tentunya akan terus berkomitmen pada kemajuan teknologi usaha di segala bidang dan bersiap untuk memajukan seluruh provinsi di Indonesia dengan menghadirkan teknologi yang sesuai dengan keunikan dari masing-masing wilayah,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa transformasi industri tidak bisa dilakukan dengan pendekatan seragam. Kebutuhan industri di Surabaya tentu berbeda dengan kawasan tambang di Kalimantan atau pusat logistik di Jakarta.

Karena itu, teknologi industri hari ini bukan hanya soal modernisasi, tetapi juga kemampuan membaca kebutuhan lokal.

Ia menambahkan, perusahaan juga terus berpegang pada lima nilai utama dalam menjalankan bisnis.

“Ada lima nilai perusahaan yang terus kami pegang teguh, yaitu trust, entrepreneurship, prudence, commitment, dan partnership,” katanya.
 

Industri dan masa depan efisiensi

Sepanjang seminar, peserta dari berbagai perusahaan tampak aktif berdiskusi. Ada yang bertanya tentang efisiensi produksi, keselamatan kerja, hingga kemungkinan penerapan robot pergudangan di pabrik mereka.

Sebagian bahkan langsung mengundang tim MHE untuk datang ke fasilitas industri masing-masing guna mencari solusi yang paling sesuai.

Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting: industri nasional sedang memasuki fase transisi menuju otomasi yang lebih serius.

Di tengah tekanan biaya produksi, persaingan global, dan tuntutan kecepatan distribusi, perusahaan-perusahaan kini mulai menyadari bahwa investasi teknologi bukan lagi biaya tambahan, melainkan bagian dari strategi bertahan dan berkembang.

Dan di ruang seminar itu, di antara presentasi derek otomatis dan robot gudang, masa depan industri perlahan sedang dipetakan.

MHE merupakan divisi penanganan material dari Jebsen & Jessen Group yang menyediakan produk, layanan, dan solusi industri serta penanganan material. Saat ini, MHE beroperasi di Australia dan sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Joan Roig Barnet dari Elebia Autohooks, serta perwakilan MHE seperti Lim Boon Tian, Doyo Lujeng Dwiarso, Rianto Dwi Leksono, Chandra Devi, Rizal Zailani, Arman Setiani, Andrew Thambiah, dan Raymond Tan.

MHE menyebut seminar ini bertujuan memberikan pemahaman kepada klien dan calon klien terkait pemilihan alat angkat yang tepat guna menyesuaikan kebutuhan investasi dan efektivitas operasional. Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai prosedur perawatan alat angkat yang benar.

 


 

Pewarta: Yasin *)

Editor : Abdul Hakim


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026