Di tengah hiruk-pikuk kota besar, Kebun Binatang Surabaya (KBS), lembaga konservasi milik Pemerintah Kota Surabaya, menyimpan kisah yang tak banyak terdengar, yakni usaha sunyi menjaga keberlanjutan komodo atau naga, reptil purba yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Di balik kandang yang tertata dan sistem perawatan yang terukur, berlangsung proses panjang pengembangbiakan yang menuntut ketelatenan, pengetahuan, dan kesabaran.
Dari ruang yang jauh dari habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kota Surabaya, Jawa Timur, justru tumbuh sebagai salah satu simpul penting konservasi komodo di tingkat global.
Keberhasilan ini tidak berhenti pada bertambahnya jumlah populasi. Ia merepresentasikan pertemuan antara sains, manajemen satwa, dan pertanyaan mendasar tentang arah konservasi itu sendiri: bagaimana menjaga spesies langka tetap lestari, tanpa mereduksinya menjadi sekadar tontonan di tengah kota.
Laboratorium hidup
Data terbaru menunjukkan populasi komodo di KBS telah menembus lebih dari 50 ekor, bahkan dalam catatan lain mendekati 80 ekor. Angka ini bukan kecil untuk satwa yang dalam daftar konservasi global tergolong rentan. Keberhasilan tersebut menempatkan Surabaya dalam peta penting konservasi eks-situ, yaitu pengembangbiakan satwa di luar habitat aslinya.
Keberhasilan perkembangbiakan komodo di KBS tidak datang secara instan. Ia lahir dari kombinasi faktor teknis yang sering luput dari perhatian publik, yakni pengaturan suhu kandang, pola makan yang mendekati habitat asli, hingga pemahaman perilaku reproduksi yang kompleks.
Komodo bukan satwa yang mudah berkembang biak dalam lingkungan buatan. Dibutuhkan stabilitas lingkungan, minim stres, serta keseimbangan populasi jantan dan betina.
Dalam konteks ini, kebun binatang berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar ruang rekreasi, tetapi menjadi laboratorium hidup. Di sinilah sains bertemu praktik lapangan, dan keberhasilan diukur bukan dari jumlah pengunjung semata, melainkan dari keberlanjutan spesies.
Namun, capaian ini juga memunculkan pertanyaan baru. Ketika populasi di penangkaran meningkat, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Menumpuk populasi di ruang terbatas, jelas bukan solusi jangka panjang. Di titik ini, kebijakan konservasi diuji.
Diplomasi hijau
Kerja sama antara KBS dan iZoo Shizuoka melalui skema breeding loan menjadi langkah strategis, sekaligus kontroversial. Dua ekor komodo dipinjamkan ke Jepang untuk tujuan pengembangbiakan, dalam kesepakatan yang memastikan kepemilikan tetap di tangan Indonesia.
Di satu sisi, ini adalah bentuk diplomasi hijau. Indonesia tidak hanya mengekspor komoditas, tetapi juga pengetahuan dan peran sebagai penjaga biodiversitas dunia. Dalam perspektif global, langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemilik otoritas moral atas komodo.
Namun di sisi lain, ada risiko yang tidak bisa diabaikan. Pemindahan satwa lintas negara membawa potensi stres, adaptasi lingkungan yang tidak sempurna, hingga persoalan biosekuriti. Meski fasilitas di Jepang diklaim telah menyesuaikan suhu dan habitat, realitas biologis sering kali lebih kompleks daripada simulasi teknis.
Di sinilah pentingnya pengawasan ketat dan evaluasi berkala. Pernyataan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang menekankan bahwa peminjaman ini bukan pertukaran, melainkan kerja sama dengan pengawasan bersama, menjadi kunci. Skema ini memberi ruang kontrol bagi Indonesia untuk memastikan kesejahteraan satwa tetap terjaga.
Lebih jauh, kerja sama ini membuka peluang pengayaan genetik. Dalam konservasi, variasi genetik adalah fondasi penting untuk mencegah inbreeding atau perkawinan kerabat. Kolaborasi antarlembaga bisa menjadi jalan keluar dari keterbatasan populasi tertutup.
Meskipun demikia, prinsip kehati-hatian harus menjadi dasar. Konservasi tidak boleh tergelincir menjadi sekadar diplomasi simbolik atau bahkan komodifikasi satwa langka.
Lepas liar
Isu yang lebih mendasar justru terletak pada arah akhir dari program breeding itu sendiri. Apakah tujuan akhirnya sekadar memperbanyak populasi di kandang, atau mengembalikan mereka ke alam?
Rencana KBS untuk melakukan restocking atau pelepasliaran komodo ke habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur menjadi langkah penting. Setidaknya empat hingga lima ekor komodo disiapkan untuk proses ini, dengan tahapan habituasi agar mampu bertahan di alam liar.
Pelepasliaran bukan proses sederhana. Komodo yang lahir di penangkaran harus “belajar ulang” menjadi liar. Mereka harus mampu berburu, beradaptasi dengan iklim ekstrem, dan menghadapi kompetisi alami. Tanpa persiapan matang, pelepasliaran justru berisiko tinggi.
Di sinilah tantangan konservasi eks-situ atau di luar habitat asli diuji: apakah ia benar-benar mendukung konservasi in-situ atau di dalam habitat asli. Atau justru menciptakan populasi yang bergantung pada manusia?
Lebih jauh, kebijakan ini perlu ditopang oleh perlindungan habitat asli. Tanpa ekosistem yang sehat, pelepasliaran hanya menjadi solusi semu. Ancaman, seperti perubahan iklim, tekanan pariwisata, dan aktivitas manusia di habitat komodo tetap menjadi persoalan utama.
Karena itu, pendekatan konservasi harus terintegrasi. Breeding di kota, seperti Surabaya, harus terhubung dengan perlindungan kawasan di Pulau Komodo dan Flores. Tanpa itu, rantai konservasi akan terputus.
Arah konservasi
Keberhasilan Surabaya mengembangbiakkan komodo adalah capaian yang patut diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa dengan manajemen yang tepat, kota dapat berperan dalam menjaga warisan alam bangsa. Namun keberhasilan ini tidak boleh berhenti pada angka populasi.
Ada tiga langkah penting yang perlu diperkuat. Pertama, memperjelas orientasi konservasi. Breeding harus diarahkan pada keberlanjutan spesies, bukan sekadar peningkatan koleksi. Indikator keberhasilan perlu diperluas, termasuk keberhasilan pelepasliaran dan kontribusi terhadap populasi liar.
Kedua, memperkuat transparansi dan akuntabilitas. Kerja sama internasional, seperti dengan iZoo, harus dibuka secara jelas kepada publik, termasuk mekanisme pengawasan dan evaluasinya. Ini penting untuk menjaga kepercayaan dan memastikan tidak ada eksploitasi terselubung.
Ketiga, mengintegrasikan edukasi publik. Lonjakan pengunjung KBS yang mencapai lebih dari dua juta orang per tahun adalah peluang besar. Setiap pengunjung harus pulang dengan pemahaman baru tentang konservasi, bukan sekadar pengalaman rekreasi.
Di titik ini, konservasi menjadi bukan hanya urusan ilmuwan atau pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.
Komodo bukan sekadar satwa. Ia adalah simbol tentang bagaimana sebuah bangsa menjaga identitas alaminya di tengah tekanan zaman. Dari Surabaya, kita melihat bahwa konservasi bisa lahir dari ruang yang tak terduga, bahkan dari sebuah kota besar yang jauh dari habitat aslinya.
Pertanyaannya kini, apakah kita akan berhenti pada keberhasilan membiakkan, atau melangkah lebih jauh untuk benar-benar mengembalikan “naga” itu ke rumahnya?
Editor : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026