Ketika gemuruh Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta kembali memenuhi udara, bukan hanya sorak penonton yang terasa, tapi juga harapan dan antisipasi publik yang menatap para pemain muda Indonesia.

Alwi Farhan, tunggal putra Merah Putih yang baru menginjak usia 20, dan pasangan ganda putra Raymond Indra (21 tahun)/Nikolaus Joaquin (20), berhasil menembus final BWF World Tour Super 500 Daihatsu Indonesia Masters 2026.

Hasil ini menunjukkan generasi baru tidak lagi sekadar menjadi penonton di turnamen besar, tetapi siap tampil, belajar, dan menantang senior mereka di lapangan.

Bagi Alwi, lolos ke final bukan tujuan akhir, melainkan salah satu tahap dalam perjalanan panjangnya. Setelah menundukkan wakil Taiwan Chi Yu Jen 21-12, 21-12, Alwi menegaskan pentingnya pemulihan fisik dan mental sebelum menghadapi partai puncak.

Fokus, kesiapan mental, dan kontrol diri di lapangan, kata Alwi, sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

“Dulu saya menonton Anthony Sinisuka Ginting juara di sini pada 2018. Tidak pernah terbayangkan saya bisa berdiri di final delapan tahun kemudian. Tapi saya berjuang untuk memantaskan diri,” kata Alwi.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesabaran, konsistensi, dan pengalaman bertanding adalah modal penting bagi generasi baru yang menembus level dunia, yang selama ini didominasi pemain kelahiran 1990-an.

Sementara itu, Raymond/Joaquin memperlihatkan kombinasi strategi matang dan mental tangguh. Meski sempat tertinggal 0-6 pada awal gim pertama melawan rekan senegara sekaligus senior Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, pasangan peringkat 23 dunia itu mampu membalikkan keadaan dan menang dua gim langsung 21-19, 21-14.

Joaquin menjelaskan permainan mereka berjalan sesuai rencana, sambil menyesuaikan dengan tekanan lawan dan situasi lapangan.

“Kami memulai dari nol, fokus mengejar senior kami. Mentalitas bukan sekadar soal percaya diri di lapangan, tapi juga tentang konsistensi dan pendekatan yang sistematis dalam latihan dan pertandingan,” ujar Joaquin.

Sabar dan Reza juga turut menambahkan perspektif lain. Mereka mengungkapkan Raymond/Joaquin bermain dengan kepercayaan diri jauh lebih tinggi dibanding pertemuan sebelumnya di Super 1000 Malaysia Open 2026.

“Permainan mereka lebih rapi, baik dari segi serangan maupun pertahanan,” kata Sabar.

Fakta ini menunjukkan generasi muda Indonesia tak hanya mengandalkan bakat alami, tetapi juga mengasah permainan secara matang melalui pengalaman, evaluasi, dan bimbingan dari pelatih.

Ekspektasi publik dan tekanan Istora

Sorotan publik terhadap final kali ini semakin tajam karena konteks Istora itu sendiri. Bukan sekadar arena pertandingan, Istora adalah sejarah dan prestise bulu tangkis Indonesia. Penonton hadir bukan hanya untuk melihat siapa menang, tapi juga untuk menyaksikan lahirnya nama baru yang siap mewarisi tongkat estafet.

Tekanan ini bisa menjadi beban, tetapi bagi Alwi, Raymond, dan Joaquin, sorakan penonton justru menjadi bahan bakar untuk tampil maksimal, menunjukkan kualitas terbaik, dan membuktikan bahwa generasi Gen Z siap unjuk gigi.

Dari sisi publik, ada rasa penasaran yang wajar. Bisa dibayangkan, sebagian berharap pada sensasi dramatis, kecepatan reaksi, dan permainan agresif yang kerap menjadi ciri pemain muda.

Namun lebih dari itu, yang paling penting adalah proses dan kematangan mental yang sedang dibangun para pemain muda ini.

Alwi dan Raymond/Joaquin tengah menimba pengalaman yang akan menentukan karier mereka di level dunia. Lebih dari sekadar gelar pertama bagi mereka di Istora.

Final bukan tujuan

Menilik perjalanan mereka sejauh ini, ada pelajaran penting yakni final bukan tujuan, melainkan tahap penting dalam pengembangan karier.

Keberhasilan menembus partai puncak lebih dari soal kemampuan teknis. Namun juga kesiapan mental, adaptasi dengan kondisi lapangan, dan kemampuan mengelola tekanan dari publik yang haus prestasi.

Hal ini juga memberi sinyal kepada publik bahwa generasi Gen Z Indonesia sudah belajar untuk memadukan bakat dengan strategi, pengalaman, dan kedewasaan mental.

Bagi Alwi Farhan, final menghadapi pemain Thailand Panitchaphon Teeraratsakul adalah peluang menunjukkan kemampuan dan pengalaman yang telah dikumpulkan.

Peringkat 18 dunia Alwi sedikit diunggulkan dibanding lawan yang berada di posisi 44. Rekor pertemuan mereka pun imbang 1-1, dengan Alwi memenangi pertemuan terakhir di Kejuaraan Asia Beregu Campuran 2025 dengan dua gim langsung 21-13, 21-18.

Sedangkan pertemuan pertama terjadi ketika keduanya di level junior tepatnya saat Kejuaraan Dunia Junior 2022. Kala itu Alwi kalah 17-21, 16-21.

Pun demikian dengan Raymond/Joaquin. Mereka akan menghadapi wakil Malaysia Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, yang berada di posisi sembilan dunia.

Meski berada di bawah peringkat lawan, pasangan muda Indonesia memiliki modal pertemuan sebelumnya di Australian Open 2025, ketika mereka menang meyakinkan 21-15, 21-15.

Bagi Alwi Farhan, Raymond Indra, dan Nikolaus Joaquin, final ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa Gen Z Indonesia siap membuat gebrakan.

Bagi penonton, ini kesempatan untuk menyaksikan perjalanan mentalitas, disiplin, dan ambisi yang menjanjikan masa depan bulu tangkis Indonesia yang lebih segar dan kompetitif.

Dengan usia muda, pengalaman yang makin bertambah, dan dukungan publik yang masif, Istora kini menanti gebrakan dari generasi baru yang siap menulis babak baru dalam sejarah bulu tangkis Indonesia.

Hari ini, semua mata akan tertuju pada mereka. Bukan hanya untuk siapa yang akan menang, tetapi bagaimana masa depan bulu tangkis Indonesia dibentuk oleh tangan-tangan muda ini.
 

Pewarta: Muhammad Ramdan

Editor : Abdullah Rifai


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026