Bojonegoro - Jagal sapi di Pasar Sroyo, Kecamatan Kanor yang juga anggota DPRD dari Fraksi PKB Bojonegoro, Farida mendesak Pemprov Jatim melarang sapi asal Jatim dibawa keluar Provinsi "Bumi Majapahit", agar tidak terjadi kelangkaan sapi di pasaran.
"Pemprov Jatim harus melarang sapi Jawa Timur dibawa keluar daerah, kalau memang Pemerintah tidak melakukan impor sapi," kata Farida, beberapa waktu lalu.
Larangan membawa sapi keluar daerah Jatim itu, juga sebagai usaha untuk mempertahankan populasi sapi di Jatim. "Dengan demikian sapi di Jatim hanya untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Jatim, tidak diperbolehkan dibawa keluar daerah," ucapnya, menegaskan.
Di lain pihak, menurut dia, larangan itu juga bermanfaat untuk menjaga daerah Jatim sebagai lumbung sapi, agar populasi sapi di Jatim tetap bisa terjaga.
Alumnus Universitas Merdeka Malang itu berpendapat kelangkaan sapi di Bojonegoro, juga daerah lainnya di Jatim, karena sapi di berbagai daerah di Jatim dibawa keluar daerah, baik yang dibawa ke Jateng, bahkan hingga Jakarta.
Pengirimnya para pedagang asal berbagai daerah di Jateng yang melakukan pembelian sapi di pasar sapi di berbagai daerah di Jatim, setiap kali pasaran.
"Berapa jumlahnya saya kurang tahu. Tapi bisa dipastikan jumlahnya cukup banyak, sebab pedagang asal Jateng banyak yang melakukan pembelian sapi di Jatim," katanya, menjelaskan.
Ia menampik anggapan populasi sapi di Jatim masih banyak, sebab kenyataan di lapangan untuk mendapatkan sapi yang siap disembelih untuk dijual dagingnya sangat sulit."Para pedagang harus masuk rumah keluar rumah di pedesaan untuk bisa memperoleh seekor sapi, sejak Hari Raya Idul Adha lalu".
Padahal, lanjutnya, para pedagang daging sapi biasanya tidak harus mencari sendiri sapi di pasaran, sebab sudah ada pedagang sapi yang secara rutin memasok sapi.Tidak hanya itu, kalau saja bisa memperoleh sapi yang siap disembelih harganya juga tinggi, sehingga menyulitkan para pedagang daging sapi.
Menurut dia bisa saja pedagang daging sapi menaikkan harga daging sapi dengan mempertimbangkan harga pembelian sapi.Ia memberikan gambaran harga daging sapi bisa saja dinaikkan menjadi Rp90 ribu/kilogram, namun akan sulit memasarkan karena menyangkut kemampuan daya beli masyarakat.
"Dengan harga Rp90 ribu/kilogram, berarti kalau ingin membeli daging sapi satu ons Rp10 ribu, ya mana masyarakat mampu membeli daging," tukas perempuan berjilbab ini.(*).
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012