Syahrul Yasin: pemimpin harus berani berkorban untuk kemajuan bersama

id Jiwa kepemimpinan,Ciri-ciri pemimpin,diskusi soal pemimpin

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan pada diskusi "Menggerakkan Inovasi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru Berbasis Human Capital Intelligence & Wisdom" di Jakarta, Rabu (24/7/2019). (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo berpandangan salah satu ciri pemimpin adalah berani berkorban dan mengambil resiko dalam menghadapi suatu persoalan dan memberi solusi guna terwujudnya kebaikan bersama.

"Pemimpin tidak boleh hanya melayani dirinya sendiri," kata Syahrul Yasin Limpo pada diskusi "Menggerakkan Inovasi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru Berbasis Human Capital Intelligence & Wisdom" di Jakarta, Rabu. Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah Kepala BI Institute Solikin M Juhro dan Pakar Neurosains Taruna Ikrar

Menurut Syahrul Yasin Limpo yang sering disebut SYL pemimpin tidak boleh hanya melayani dirinya sendiri, memikirkan kepentingannya sendiri atau kelompoknya, tetapi harus berani berkorban untuk kepentingan umum.

"Pemimpin tidak boleh egois, tetapi harus bisa berbagi, merangkul, dan mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan,” kata Syahrul.

Gubernur Sulawesi Selatan selama dua periode 2008-2013 dan 2013-2018 ini mengatakan, sebagai pemimpin di Sulawesi Selatan dirinya memegang teguh empat nilai yang merupakan kebenaran.

Keempat nilai tersebut adalah, pertama, nilai agama atau teologis di mana setiap agama pasti mengajarkan tentang kebaikan dan mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan.

Kedua, nilai kebenaran sosiologis, yakni pemimpin menghadirkan manfaat bagi orang lain. Pemimpin harus menjadi rahmat dan berkat bagi orang lain, bukan menjadi menjadi bencana bagi orang lain atau masyarakat.

Ketiga, pemimpin harus memegang kebenaran yuridis atau aturan yang berlaku. "Pemimpin harus tahu dan ta'at terhadap aturan, tidak bertindak atas kemauan sendiri karena aturan tersebut dibuat untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan keadilan sehingga dijalankan oleh semua orang terutama pemimpinnya sehingga bisa memberikan contoh bagi yang lain," katanya.

Baca juga: Kriteria pemimpin di mata Gubernur Pastika

Baca juga: Hasyim Muzadi: Indonesia butuh pemimpin jujur dan kompeten

Baca juga: PBNU: Pemimpin harus tegas dan adil


Keempat, adalah nilai kebenaran kultural, yakni pemimpin tidak bisa lepas dari budaya sopan-santun, kerja-sama, dan gotong-royong. "Sehebat apapun pemimpinnya, dia tidak bisa bekerja sendiri, dia membutuhkan banyak orang dan kerja-sama yang kuat,” tutur dia.

Syahrul menambahkan, pemimpin juga harus sensitif terhadap kemajuan dan perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi. "Pemimpin harus mempunyai orientasi yang jelas di masa depan," katanya.

Menurut dia, pemimpin harus visioner dan kreatif di era modern seperti saat ini. Pemimpin harus mampu menunjuk arah ke mana orang yang dipimpin mau dibawa, tentunya dibawa kepada kemajuan, kebaikan, dan kesejahteraan.

Karena itu, Syahrul berharap, para pemimpin di Indonesia di semua bidang mempunyai spirit yang sama, yakni mengutamakan kepentingan rakyat dan terus bekerja sama membangun bangsa yang kuat, mandiri dan berdikari.

"Saat ini bukan saatnya lagi antara sesama anak bangsa saling menjatuhkan karena jika hal tersebut yang tampak, maka bangsa kita akan mudah dikuasai bangsa lain," katanya.

Pewarta : Riza Harahap
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar