Anggota DPR: pergantian Kapolda Metro mampu berantas isu SARA

id Mutasi Polri, Ahmad Sahroni, Kapolda Metro Jaya, isu SARA, pemilu 2019

Anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni. (Dok pribadi)

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni mengatakan, pergantian Kapolda Metro Jaya harus mampu menciptakan kondisi aman dan memberantas isu SARA dalam penyelenggaraan Pemilu Serentak di Ibukota pada 17 April 2019.
 
Irjen Polisi Gatot Edy Pramono dimutasi dan akan menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, sementara Irjen Polisi Idham Azis akan menjabat Kabareskrim Mabes Polri. 
 
"Saya yakin Irjen Polisi Gatot Edy Pramono sebagai Kapolda Metro Jaya nantinya akan mampu menjaga stabilitas di ibukota, khususnya saat Pemilu Serentak 17 April mendatang. Gatot memiliki rekam jejak bagus dalam pengalaman maupun akademisi. Dia mengenal karakter Jakarta sejak menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya," kata Sahroni, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa. 
 
Ia juga optimistis  Irjen Polisi Gatot Edy Pramono sebagai Kapolda Metro Jaya dengan pengalaman dan pemikirannya sebagai Doktor Krimonologi akan mampu menciptakan situasi kondusif tanpa isu SARA di ibukota saat perhelatan pesta demokrasi lima tahunan ini. 
 
Berbicara pendidikan dan konsep pemikiran, Gatot Edy yang pada tahun 2015 masih berpangkat Brigjen berhasil meraih gelar Doktor Kriminologi Universitas Indonesia (UI). 
 
Gatot meraih gelar itu dengan mempertahankan disertasi berjudul 'Transformasi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Menjadi Kelompok Kekerasan (Studi terhadap Kekerasan Kelompok oleh Empat Ormas di Jakarta)'. Ormas yang menjadi subjek penelitian Gatot adalah Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila, Forkabi, dan Kembang Latar. 
 
"Konsep pemikirannya akan sangat efektif meredam berbagai kriminalitas," kata politisi Partai NasDdm ini.
 
Sahroni menyebutkan, pengalaman Gatot sebagai Kepala Satgas Nusantara sejak awal tahun 2018 akan berdampak positif pada penanganan potensi gangguan gangguan Kamtibmas dalam pesta demokrasi di ibukota.
 
Dengan kemampuan tersebut, Sahroni berharap Gatot mampu mengeliminir isu SARA sehingga dinamika politik saat Pilkada DKI yang sarat dengan isu agama tak terulang di Pemilu Serentak yang akan digelar 17 April 2019.
 
"Pilkada DKI 2017 yang masih memunculkan isu SARA sehingga menciptakan dinamika politik dan melemahkan hubungan bermasyarakat menjadi pelajaran. Ini adalah tantangan Kapolda Metro Jaya dalam mengamankan ibukota saat Pemilu serentak. Saya berharap dan optimis Gatot sebagai Kapolda Metro dengan berbagai pengalamannya mampu mengeliminir isu SARA di ibukota," ucapnya. 
 
Selain sosok Kapolda Metro, profil lain yang menjadi sorotan Sahroni dalam mutasi Polri kali ini adalah Kabareskrim. Irjen Idham Azis yang kursinya diambil alih oleh Gatot akan menempati posisi Kabareskrim.
 
Sahroni memandang Idham sangat layak mendapat kepercayaan sebagai Kabareskrim. Keberhasilan mengamankan Polda Metro Jaya sejak menggantikan Irjen M Iriawan menjadi salah satu bukti kinerjanya. 
 
Ketegasan Idham dalam memimpin diharapkan Sahroni menjadi modal penting dalam membenahi dan meningkatkan kinerja Bareskrim sehingga isu adanya oknum bermain kasus maupun tebang pilih penanganan perkara yang saat ini masih tergambar di benak masyarakat akan menghilang. 
 
"PR terbesar Kabareskrim adalah membuktikan kepada masyarakat tak ada tebang pilih dalam penanganan perkara. Kabareksrim harus mampu memperlihatkan profesionalisme dan integritas jajarannya," pesan Sahroni.
 
Dalam kesempatan yang sama Sahroni mengingatkan Idham sebagai pimpinan tertinggi Reserse Kriminal dapat terus memacu kinerja jajarannya di Direktorat IV Narkoba untuk menjadikan Indonesia tak lagi menjadi surga para bandar narkoba. 
 
"Kinerja baik dalam pemberantasan narkoba harus terus ditingkatkan. Kerjasama dengan berbagai instansi ataupun elemen dalam pengawasan penyelundupan dan pabrik pembuat narkoba harus dimaksimalkan agar peredaran zat terlarang ini semakin menghilang. Tindak tegas oknum yang bermain dalam penanganan kasus atau bekerja sama dengan para bandar," tutur Sahroni.

Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar